Saya di Google

Selasa, 26 Februari 2013

“Bu Guru Tidak Pernah Marah”


Jam 18.30 -an seperti biasanya, aku menyimak bungsuku membaca iqro’ jilid 1. Sementara kakaknya, atas kemauannya sendiri  mengikuti program pendidikan pesantren  di pondok pesatren pakdenya yang tak jauh dari tempat tinggal kami.
“ Ja, ha, …” Jangka, bungsuku itu melafadzkan bacaan yang tertulis dalam kitab iqro’ tersebut.”Khe” kebiasaan dia kalau melafadzkan ‘kho’ dengan ucapan ‘khe’ sambil menoleh ke arahku dan tersenyum. Kubiarkan saja ia melafadzkan demikian itu, karena sebelumnya ia sudah bisa melafadzkannya dengan benar.
“Mi, adik ada PR  lagi dari  bu guru”. Ia memberitahuku sesudah kegiatan  ngajinya kami akhiri bersama. “ Adik mengerjakan sekarang atau nanti ?” Tanyaku memberi pilihan. “Sekarang saja”. Jawabnya seraya kepalanya disandarkan di lenganku, kelihatan sekali sikap kanak-kanaknya.
 “Ambil dong bukunya!” perintahku  ketika kulihat  ia lama mempermainkan ‘penuduh’ (alat penunjuk tulisan ketika mengaji). “Sebentar Mi,  adik masih pegel lho” Elaknya bernada merengek. “Adik minta ditolong umi ta?” tanyaku menawarkan diri.  Ia cuma mengangguk tanda setuju. Aku segera bergegas mengambil tas sekolahnya . Beberapa detik kemudian ia sudah sibuk mengaduk-aduk tasnya mencari buku catatan PR dan alat tulisnya. “ Di mana sich penghapusnya?” Ia mulai  gusar. Kulihat matanya tinggal beberapa watt saja, mulai ngantuk, maklum sudah masuk waktu isya agak lama’, waktunya ia tidur. Lama ia mengaduk – aduk tasnya, akhirnya  kubantu juga ia mencari penghapus tersebut. Ia mulai menulis tugas sesuai perintah guru TK-nya, tentu saja setelah ia memintaku untuk membacakan perintahnya. 
“Adik pegel, Mi?” keningnya sedikit berkerut, mungkin demi memperjelas keluhannya. “ Besok dikerjakan lagi ya?” aku berusaha nego, tapi apa katanya “ Umi bantu adik gitu lho. Tangannya adik dipegang Umi seperti dulu itu”. Kuturuti kemauannya, meskipun aku kurang senang dengan mendampingi belajar seperti ini. Pikirku, membuat dia berpangku tangan mengharap bantuan orang lain untuk menyelesaikan tugasnya. “Sudah, besok lagi, umi juga capek.” Kataku menyudahi belajarnya, sebelum PR bungsuku tuntas dikerjakan. Di bukunya itu tinggal dua baris kalimat yang harus ditulis  dari  lima kalimat yang diminta gurunya untuk menulis dan membaca kembali.
Keesokan harinya, kira-kira sejam sesudah ia bangun tidur. “Mi, PR-nya Jangka sudah diselesaikan apa belum?” Abi mengingatkanku di sela-sela kesibukan kami  masing- masing di setiap pagi. ‘O, enggeh… Ayo Dik dikerjakan lagi”  Aku sudah menyodorkan buku tugasnya. “Sebentar, adik masih mimik susu”. Katanya sembari  membetulkan tempat duduknya di depan TV, matanya tertuju pada film kartun spongebob.
“Assalamu’alaikum”  Dari luar terdengar suara kakak berucap salam, datang dari pondok setelah mengaji sejak jam 4 pagi buta tadi. “Wa’alaikum salam” Jawabku bersamaan dengan jawaban abi di luar sana. “Umi dan abi dibantu ya,Kak!”  Aku mengingatkan kakak untuk mengerjakan rutinitas paginya membantu menyelesaikan tugas rumah yang ringan, seperti menyapu dan memberi makan unggas-unggas abinya. Rupanya kakak mengangguk saja meanggapi permintaanku .Sementara itu masih kulihat si adik bermalas-malasan di depan TV
 “Sudah Dik, mimik susunya?”
“ Adik mau makan dulu” Astaghfiruloh, tumben juga ini anak, kok jadi diulur-ulur menyelesaikan tugasnya.  “ Adik tidak takut dikasih bintang sedikit ta oleh bu guru?” Aku ingin tau seberapa besar tanggungjawabnya menyelesaikan tugasnya itu.
“Adik lho, Mi capek” .  
“Kalu adik capek, matur ke bu guru :   Bu guru adik tidak dikasih  PR dulu ya’, begitu geh?” Bagiku lebih baik begitu, daripada memamaklumi tugas  yang belum diselesaikan yang notabene selalu  diberikan tiap hari, tugas menulis,membaca dan berhitung .
“Umi saja yang memberi tahu, adik malu”. Responnya setelah beberapa waktu ia mengunyah makan paginya. Aku menyanggupi saja. Dalam hatiku, mungkin lebih baik ia sendiri yang berkomunikasi tentang hal itu kepada gurunya.
“Mi, mana baju Pramukanya, Kakak?” Omy, sang kakak, membuka lipatan-lipatan baju di dalam lemari yang dekat mushola itu. “Masih di keranjang,Kak. Kemarin belum sempat dimasukkan umi ke lemari habis disetrika adik Lail.” Kakak langsung bergegas ke tempat setrikaan.
Akhirnya, sampai juga waktu untuk bersiap-siap ke sekolah, mandi, sarapan, berseragam dan sebelumnya sholat dhuha dulu.Si bungsu baru beberapa hari saja ia terbiasa sholat dhuha dan belum konsisten (istiqomah), sementara kakak sudah mulai bisa konsisten.
“Assalamu’alaikum, Kakak nanti ada jam pelajaran tambahan, Bi” kudengar kakak minta izin berangkat ke sekolah. “Wa’alaikum salam”. Abi bersalaman dengan Kakak lalu berjalan ke arahku dan bersalaman pula.
Sangunya kakak ditambahi kan, Mi?” Omy menagih janjiku untuk memberi uang saku tambahan mengingat ia ada pelajaran tambahan.” Dibuat beli baksonya Wak Jinah atau beli nasi kuningnya Bu Nanik ya!” aku menganggguk dan kemudian mengingatkan untuk beli makanan yang aman, diantaranya bakso tradisionalnya Wak Jinah yang lain rasanya dari bakso yang biasa dijual .
“Umi, adik juga sangunya yang banyak ya?” Jangka, bungsuku itu menuntut pula uang saku lebih.
“Insyallah, nanti adik di sekolah dapat bintang sepuluh ya?’
“Tidak ada,Mi. Bintangnya Cuma empat”. Ia senyum-senyum mungkin dianggapnya ungakapanku itu lucu.”Oh begitu ya?” Tanyaku seolah tidak tahu perihal nilai bintangnya itu.  Kemudian keduanya berangkat ke sekolah. Kakak mengendarai sepedanya sedangkan adik diantar abi naik motor. Aku sendiri belum selesai menyiapkan kebutuhanku menata tugas untuk siswa-siswa, karena hari ini aku tidak dapat melanjutkan mengajar pada jam siang, mengingat ada rapat di aula dinas pendidikan, persiapan Hari Aksara . Inilah kiranya, mau melaksanakan aktivitas sesuai waktu yang tersedia, tapi ada saja aktivitas mendadak yang membuatku menunda aktivitas lainnya.
Setelah kami melaksanakan aktivitas masing-masing : sekolah untuk kedua anakku, aku mengajar dan suami sibuk dengan unggas-unggasnya dan dagangnya, tidak terasa waktu sudah sore. Omy, sulungku  sudah berangkat mengaji sejak jam 14.30 tadi. Aku tidak mengetahui keberangkatannya karena masih dalam perjalanan pulang dari rapat, di tengah perjalanan berhenti sejenak menunggu hujan reda.
“Jangka dimandikan juga, Mi!” terdengar suara abi dari luar sana. Memang aku langsung bersih-bersih karena guyuran hujan di jalan tadi. “Nyuwon tolong, Bi larene diutus mriki!”  kataku menanggapi abi dari dalam kamar mandi. Tak lama kemudian, bungsuku sudah datang dengan membawa beberapa mainan yang biasanya dipakai bermain di kamar mandi, seperti pompa air dan botol kemasan air mineral.
“Bagaimana PR-nya Adik tadi?” tanyaku sambil membersihkan badannya dengan sabun. Ia sibuk dengan pompa air dan botolnya.
“Bu guru lho, Mi memberi adik nilai bintang tiga”
Oh ya?”  aku sedikit heran “ Tadi PR-nya cuma ditulis tigakan? “  Jangka mengangguk. Tiap hari kami tanya anak-anak kami tentang hasil belajarnya dan juga sikap- sikap guru dan teman-teman mereka terhadap mereka berdua. Kebetulan bungsuku selalu diberi nilai bintang tiga oleh guru-gurunya, baik itu hasil pekerjaannya mendekati sempurna maupun tidak . Tapi untuk tugas rumahnya yang satu ini sepertinya jauh dari kata sempurna.
“Padahal bu guru menyuruh menulis lima…….” Aku melanjutkan keherananku.
“Emang, bu guru itu tidak pernah marah, Mi”. Ia menaggapi pernyataanku dengan santai. Olala…. Sejuk sekali ungkapannya, andai bu gurunya mendengar ungkapan anakku dan mungkin anak- anak lainnya sejenis ini . Sebuah ungkapan tulus yang tidak butuh dibalas dengan nilai bintang empat.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar