Jumat, 14 Juli 2017

Materi LDNU

Anakku, Do'akan Orang Tuamu Seperti Ibunya Imam Syafi'i
Oleh : Astatik Bestari ( PC ISNU Jombang pada department keluarga dan perempuan)

Baru saja anak- anak kita yang ada di jenjang pendidikan usia dini ( PAUD, RA, TK), MI/ SD, MTs/ SMP,  dan MA/ SMA/ SMK memasuki tahun ajaran baru 2017-2018. Di antara mereka ada yang melanjutkan di kelas lebih tinggi, ada pula yang menjadi siswa baru di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan juga masuk di lembaga pendidikan pesantren yang istilah masyarakat Jombang disebut mondok .

Bagi umumnya anak- anak sekolah dan santri yang tinggal melanjutkan kelas setingkat lebih tinggi dari sebelumnya,  tahun ajaran baru bukanlah hal yang merisaukan bahkan masa yang ditunggu-tunggu . Di kelas barunya, mereka mungkin akan menemui guru pengajar baru dan tentunya materi pelajaran yang lebih kompleks. Sementara lingkungan pergaulan mereka di sekolah, madrasah dan atau pondok pesantren tetap sama; teman dengan segala macam kepribadian, fasilitas sarana prasarana yang sudah mereka jumpai sebelumnya, beberapa pendidik/ gurupun sudah mereka kenal.  Hal  Ini sudah lumrah dijumpai oleh siswa dan santri lama.

Namun akan lain ceritanya,  ketika anak-anak kita memasuki lembaga pendidikan baru. Teman baru,  guru baru dan sarana prasarana pendidikan yang walaupun mereka sudah menjumpai di madrasah atau sekolah dan pesantren sebelumnya adakalanya mereka juga perlu menyesuaikan diri. Bagi mereka yang mudah beradaptasi,  tahun ajaran baru bukanlah kendala berarti justru suatu kebahagian mereka karena mampu melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi dengan suasana yang baru semua.

Untuk anak-anak yang perlu lama dalam beradaptasi dengan lingkungannya, para orang tua mereka  tentunya agar bersabar menyikapi dan tlaten mendampingi mereka dalam situasi seperti ini. Memang tidak banyak di lembaga pendidikan formal dan pesantren ditemui anak-anak yang sulit beradaptasi dengan lingkungannya. Namun jika ada seperti itu kiranya patut kita carikan solusi. Adakalanya karena tidak cocok dengan makanan yang disediakan di dalam pondok pesantren ada anak yang tidak betah atau tidak kerasan, lalu minta pulang,  boyong.  Padahal membeli makanan tambahan lauk pauk diperkenan oleh pihak pesantren. Tapi ia juga malu keluar pondok pesantren .  Ada pula yang cocok dengan lingkungan sekolah,  madrasah atau pesantren,  tapi ia mendapat intimidasi atau tekanan dari kakak kelas sebagai dampak gaya hidup anak muda.
Lalu,  apakah orang tua yang menemui anaknya dalam posisi dan situasi seperti itu bergegas memindahkan anaknya atau menuruti kemauan anaknya untuk pulang tidak mondok lagi? Mengirimkan anak-anak kita ke lembaga pendidikan adalah tanggung jawab orang tua, menyerah dengan tipe anak yang sulit beradaptasi di lingkungan belajar barunya adalah kerugian bagi anak dan orang tua .

Prestasi anak atau kegagalan belajarnya tetap melekat dan menjadi tanggung jawab orang tua. Nampak dalam lahirnya memang seolah anaklah yang bermasalah,  tapi bagaimanapun juga sikap dhohir dan batin orang tua dalam memperlakukan pendidikan anaknya berperan besar menetukan. Saya menyimpulkan demikian teringat apa yang disampaikan kakak sepupu suami saya yang mengasuh pesantren khusus anak- anak di desa Catakgayam kecamatan Mojowarno yang kurang lebih seperti ini
"Mondokno anak iku sing penting ngatur wong tuwone, lek wong tuwone ihlas anak-e yo krasan".  ( kalau memondokkan anak itu  yang penting mengatur orang tuanya,  kalau orang tuanya ihlas ( melepas anaknya mondok) , maka anaknya akan kerasan ).

Pernyataan KH Mas'ud bin Ahmad Dhuha pengasuh pesantren tersebut rupanya sejalan dengan sejarah Imam Syafi'i, imam madhzab yang diikuti kaum nahdliyin ini. Cuplikan sejarahnya baru -baru ini sempat menjadi viral di dunia maya. Ibunya Imam Syafi'i menyuruh Imam Syafi'i untuk pergi menuntut ilmu
 “Nak pergilah menuntut ilmu untuk jihad di jalan Allah SWT Kelak kita bertemu di akhirat saja”.
Kemudian, Imam Syafi’i berangkat dari Makkah ke Madinah belajar dgn Imam Malik, kemudian ke Iraq.

Di Iraq Imam syafi’i tidak hanya  1 atau 2 tahun, beliau tidak berani pulang ke rumah, karena ketika beliau ingin pulang beliau teringat pesan ibunda beliau tersebut (“Kelak kita bertemu di akhirat saja…”) sehingga sebelum ada Izin dari Ibunya beliau tidak berani pulang ke rumah.

Penggalan cerita ini menyiratkan makna bahwa ibu yang  lebih dikenal memiliki hati tidak tega dengan anak jika jauh dari keluarga, yang lebih mendahulukan perasaan kasihan dan was- was jikalau anaknya jauh darinya ; harus berani berkata tegas baik secara lisan maupun batin untuk melepas anaknya pergi mencari ilmu. Begitu ikhlas melepas anaknya,  hingga dilambangkan dengan  diperkenankan berjumpa dengannya kelak di akhirat.

Kita bisa meneliti dan mengingat kembali, apa yang terjadi pada anak-anak kita di tempat belajarnya,  entah itu kerasan dan tenang di tempat belajar tersebut ( pondok pesantren dan bersekolah di sekolah formal)  atau justru tiba-tiba tidak kerasan, padahal mereka sendiri yang memilih pondok pesantren, madrsah dan perguruan tinggi . Mereka yang sudah tenang mondok dan bersekolah, mungkin karena kita sudah memilki tekada seperti ibunya Imam Syafi'i. Sementara itu,  kita tidak patut  terburu buru mengahakimi anak kita dengan mengganggap mereka tidak bisa beradaptasi atau tidak konsisten dengan pilihannya, boleh jadi karena hati kita sendiri yang belum bisa menyepakati keinginan kita untuk melepas anak-anak kita menuntut ilmu jauh dari dekapan tangan kasih sayang kita.

Kita semua yakin, keinginan anak-anak kita pergi mencari ilmu adalah keinginan nurani baiknya. Jangan sampai kita rusak dengan kurang ihlasnya kita melepas mereka. Semoga kita menjadi orang tua yang ihlas melepas anak-anak kita jauh dari kita untuk menuntut ilmu.
Anakku, doakan orang tuamu ini seperti ibunya Imam Syafi'i




Senin, 10 Juli 2017

Materi sosialisasi


Tragedi Nol Buku

30-04-2017 10:15 amLiterasi
Mepnews.id – Menarik apa yang disampaikan Direktur Pembinaan PAUD Kementerian Pendidikan dan kebudayaan RI R. Ella Yulaelawati R., M., Ph.D dalam sambutannya di Gerakan Indonesia Membaca 26 April 2017 di Menturo Sumobito yang lalu. Sambutan beliau cukup informatif bagi saya, karena banyak hal yang baru saya ketahui saat saya menyimak sambutan beliau ini.

Salah satu topik yang menarik walaupun cukup memprihatinkan adalah sambutan beliau atas fenomena yang terjadi pada bangsa Indonesia ini dalam hal minat membaca buku.

Dalam sambutannya tersebut saya menangkap informasi bahwa berdasarkan survei  literasi yang dilakukan salah satu perguruan tinggi dari Amerika Serikat menempatkan Finlandia, Norwegia. Islandia, Denmark dan Swiss sebagai lima negar tingkat melek literasi terbaik. Sementara itu berdasarkan survei tersebut, Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia hanya  setingkat lebih baik dari Bostwana, sebuah negara miskin di Afrika.

Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil sensus Badan Pusat Statistik menunjukkan sebesar 85,9 persen masyarakat memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio ( 40,3 persen) dan membaca koran ( 23,5 persen).

Diperkuat pula oleh data statistik UNESCO yang dilansir pada tahun 2012 menyatakan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Ini artinya tiap 1.000 penduduk, satu orang saja yang memiliki minat baca.

Fenomena inilah yang  yang disebut Taufiq Ismail sebagai “tragedi nol buku” di mana generasi tidak membaca satu pun buku dalam satu tahun, generasi rabun membaca dan lumpuh menulis.

Disebut “Tragedi nol buku” ini  beliau melihat pada perbandingan fenomena budaya baca di kalangan pelajar saat ini rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Brunei 7 buku, sedangkan Indoenesia nol buku.

Kenyataan seperti ini tentu tidak boleh berlangsung terus. Kemdikbud sudah memulai melalui Permndikbud No 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang di dalamnya memuat kewajiban seluruh warga sekolah meluangkan 15menit membaca buku non-teks pelajaran sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.Tujuannya adalah menggiatkan budaya membaca dan menghapus generasi nol buku. Kebijakan ini adalah suatu upaya membiasakan membaca. Kata lain dari budaya itu adalah kebiasaan. Jadi, budaya membaca itu kebiasaan membaca sehingga yang harus dilakukan adalah melakukan proses pembiasaan.

Mari menciptakan pembiasaan gemar membaca karena penyebutan “tragedi nol buku” ini bukanlah predikat membanggakan tapi sebaiknya sangat memprihatinkan

( Astatik, Ketua PKBM BESTARI Jombang)











Selamat, Jombang Sebagai Kabupaten Literasi


MEPnews.id – Pilihan hari pencanangan rangkaian kegiatan literasi di Kabupaten Jombang merepresentasikan keilmuan team panitia dalam kegiatan ini, yaitu hari Rabu tanggal 26 April 2017. Hari Rabu dalam kajian etika mencari ilmu adalah hari yang paling baik untuk mengawali mencari ilmu selain hari Ahad ( Minggu). Cukup merepresentasikan makna kegiatan yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, budaya dan teknologi.

Kegiatan literasi ini berpusat di Menturo Desa Sumobito Kabupaten Jombang, dengan rangkaian kegiatan-kegiatan menulis 100 surat untuk Pak Presiden , lomba mewarnai 1000 peserta didik PAUD Sekabupaten Jombang, launching 200 pojok literasi PAUD oleh wakil bupati Jombang, penandatangan program ikut PAUD 1 tahun pra sekolah dasar yang melibatkan 21 camat sekabupaten Jombang dan pencangan kampung literasi di Menturo Desa Sumobito ini.

Patut kalau Direktur Pembinaan PAUD kementerian Pendidikan dan kebudayaan RI R . Ella Yulaelawati, R., M., Ph.D mengapresiasi kegiatan ini dengan menobatkan Jombang sebagai kabupaten literasi setelah sebelumnya ada kabupaten Tregalek dan Kabupaten Banyuwangi. Dalam sambutannya pada kegiatan literasi yang dikemas dalam program kegiatan Gerakan Indonesia Membaca bertempat di halaman SMK GLOBAL ini beliau juga memaparkan banyak hal terkait layanan PAUD, kesejahteraan para pendidik PAUD yang diharapkan masuk dalam politik anggaran, tenaga pendidik yang seharusnya responsif gender,di mana guru PAUD sampai SMP seyogianya melibatkan pula dari kaum pria agar pola pendidik tidak bias gender. Beliau juga menjelaskan kepada para hadirin dalam kegiatan ini bahwa tidak dibenarkan adanya kursus membaca untuk usia PAUD, sehingga tidak ada kursus membaca untuk anak PAUD yang ada izinnya. Beliau juga menjelaskan terkait bahaya radikalisme yang dimasukan dalam buku pelajaran seperti penggunaan kosakata jihat, DOM ( daerah operasi militer), mengajarkan kebencian dan lain sebagainya yang semuanya itu tidak boleh beredar.

IMG-20170426-WA0196
Kegiatan ini semakin berarti karena dihadiri pula oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Kesetaraan dan Keaksaraan kementerian pendidikan dan kebudayaan RI, wakil bupati Jombang, Bunda PAUD kabupaten Jombang, ketua FORSID ( Forum Silaturahmi Isteri Dewan), kepala dinas pendidikan kabupaten Jombang, dari unsur pejabat di lingkungan dinas pendidikan bidang PNFI kabupaten Jombang, para camat sekabupaten Jombang, guru PAUD sekabupaten Jombang para pegiat literasi, pegiat PNFI dari unsur PKBM dan LKP di Kabupaten Jombang. Diramaikan pula dengan pameran aneka produk dari pegiat PNFI dan aktivitas literasi mendongeng oleh komunitas MUMBA ( Minggu Membaca) Jombang dan aktivitas baca siswa siswa SD yang difasilitasi SKB Mojoagung di sepanjang jalan menuju lokasi utama kegiatan Gerakan Indonesia Membaca ini.

Perlu pembaca ketahui bahwa tempat kegiatan Gerakan Indonesia Membaca ini adalah lokasi dimana Pengajian Padang Mbulan Cak Nun ( Emha Ainun Nadjib) rutin dilaksanakan.

Astatik, S.Ag ( Ketua PKBM BESTARI Jombang)
Oleh: Astatik
Mepnews.id – Pagi tadi, saya membaca postingan sahabat saya ketua PKBM Yalatif Jombang terkait bom yang meledak di Kampung Melayu tadi malam. Postingan tersebut begini isinya:
“PARA PENYULUT BOM
Bom Kampung Melayu hanya ujung yang meledak. Serpihannya terpental sampai jauh. Tapi, tahukah kamu, sesungguhnya sumbu bom itu sudah disulut cukup lama.
Ketika laskar-laskar organisasi keagamaan dengan beringas mensweeping apa saja yang dianggapnya berbeda. Sesunguhnya mereka sedang menyulut bom.
Ketika anak-anak di sekolah diajarkan kebencian kepada orang yang beragama lain, sesungguhnya guru-guru mereka telah ikut menyulut bom.
Ketika para mahasiswa yang centil beragama mengobar-ngobarkan semangat jihad. Lalu berbaris rapi meneriakkan pembentukan pemerintahan khalifah di Indonesia. Mereka sedang menyulut bom.
Ketika seorang yang memakai sorban berkata di sebuah acara televisi swasta, Ahok harus dipotong tangan dan kakinya, sesunguhnya dia telah ikut menyulut bom.
Ketika orang yang mengaku ulama lebih sibuk menjadi korlap demonstrasi ketimbang mengajarkan kebaikan akhlak. Para lelaki berjubah itu sedang menyulut bom.
Ketika barisan demonstran dengan garang memaki warga Tionghoa dengan kata ganyang. Mereka telah ikut menyulut bom.
Ketika kata-kata kafir dilontarkan dengan nada penuh kebencian, mereka semua sedang menyulut bom.
Ketika spanduk-spanduk di mesjid menyuarakan menolak mensholatkan jenazah orang yang berbeda pilihan politik. Mereka sedang menyulut bom.
Ketika status di media sosial mengobarkan kebencian rasial dan agama, sesungguhnya pembuat status itu sedang menyulut bom.
Ketika demonstrasi berjilid-jilid tak berkesudahan yang dihiasi kata-kata kasar dan caci-maki para oratornya, sesungguhnya mereka semua sedang menyulut bom.
Ketika mimbar-mimbar masjid dijadikan ajang kampanye politik yang mengutuk-ngutuk penuh kedengkian. Yang menyebarkan bara permusuhan pada pemeluk agama berbeda. Para khotib itu sesungguhnya sedang menyulut bom.
Ketika baiat para jawara untuk memenangkan pasangan Gubernur tertentu, dengan tangan mengacungkan golok. Mereka sedang menyulut bom.
Ketika ajang kampanye dihiasi dengan intimidasi, mereka sedang menyulut bom.
Ketika mulut politisi tua bangka terus menerus mencerocos menebarkan permusuhan dan kecurigaan tanpa bukti, sesungguhnya dia juga sedang menyulut bom.
Ketika kita diam saja dengan semua kedegilan itu. Kita memilih menghindar padahal di depan mata sedang terjadi kegiatan merobek-robek bangsa ini dalam jurang kebencian. Kita juga ikut menyulut bom.
Lantas ketika bom-bom itu benar-benar meledak di Kampung Melayu, kita semua kaget. Atau pura-pura kaget. Kita semua miris melihat serpihan tubuh yang tanggal dan sempal dari badan. Kita semua ngeri.
Padahal, jangan-jangan, kitalah yang selama ini aktif menyulut dentuman bom itu di masyarakat. Sebagian kita, mungkin saja sudah layak menyandang gelar teroris, dengan berbagai perannya…
www.ekokuntadhi.com ”
Saya baca sekali lagi postingan tersebut dengan seksama. Postingan yang memuat respon terkini dari tragedi kemanusiaan di Jakarta ledakan bom di Kampung Melayu saat ada kegiatan pawai obor ( 24 Mei 2017).
Saya pahami, bahwa postingan tersebut menyoal kurangnya individu yang disebut di dalamnya dalam menghargai keberagaman, tidak peduli dengan persoalan kemanusiaan, lebih mengedepankan kepentingan individu atau kelompok, dan merasa benar sendiri.
Prilaku-prilaku negatif ini muncul kemungkinan karena sedikitnya ilmu pengetahuan individu yang bersangkutan, sehingga mudah tersulut emosi, karena tidak memiliki bahan pengetahuan untuk mempertimbangkan segala informasi yang ia terima.
Program kemdikbud RI dua tahun terakhir ini GLN (Gerakan Literasi Nasional) rupanya cukup penting untuk dilestarikan dalam rangka meminimalisir perilaku dan pola pikir yang mudah tersulut apalagi menjadi penyulut api kebencian juga lemahnya kepekaan sosial.
Education Development Center ( EDC) menyatakan kemampuan literasi tidak hanya pada ketrampilan membaca dan menulis. Literasi juga merupakan kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.
UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi salah satunya adalah mewujudkan perdamaian.
Dalam wikipedia pendidikan makna literasi mencakup melek visual yang artinya *kemampuan untuk mengenali dan memahami ide ide yang disampaikan secara visual* ( adegan ,video, gambar)
Banyak membaca tulisan dan ide ide visual membantu invidu untuk meluaskan cara pandang agar tidak didikte oleh kebenaran subyektif dalam alam pikirannya dan _dituntuntun_ oleh kacamata minus individu yang bersangkutan untuk memahami segala keberagaman.
Salam literasi


Tujuan Gemar membaca
Seseorang yang senang membaca akan membaca dengan baik, sebagian besar waktunya akan digunakan untuk emmbaca.
Seseorang  yang gemar membaca akan mempunyai rasa kebahasaan yang lebih tinggi. Mereka akan berbicara, menulis, dan memahami gagasan-gagasan rumit secara lebih baik.
Membaca akan memberikan wawasan yang lebih luas dalam segala hal dn membuat belajar lebih mudah.
Kegemaran membaca akan memberikan beragam perspektif pola pikir dan cara pandang
Membaca akan mmembantu seseorang  memiliki rasa kasih sayang.
Seseorang  yang gemar membaca dihadapkan pada suatu dunia yang penuh dengan kenungkinan dan kesempatan.
Seseorang   yang gemar membaca akan mampu mengembangkan pola berfikir kreatif dalam diri mereka.

Selasa, 04 Juli 2017

Malam 23 Ramadhan 1438H

 Malam Dua Puluh Tiga Ramadhan 1438 Hijriyah
Usai sholat tarawih pada malam ke-23 di bulan Ramadhan 1438H, tiba-tiba saya punya ide untuk menulis cerita tentang ibu saya sendiri. Entahlah, topik -topik cerita sudah disiapkan untuk LISSAN, satupun belum bisa rampung.

Mungkin menulis cerita tentang ibu saya akan lebih mudah  mengalirkan kata-kata dari benak saya yang kemudian terangkai dalam kalimat, lalu menjadi wujud paragraf, itu harapan dan angan-angan saya pada malam  dua puluh tiga kala itu. Ya, karena saya tiba-tiba ingat masa -masa hidup beliau di bulan Ramadhan begitu mampu membuat hari- hari di bulan Ramadhan sangat berkwalitas.
Ternyata benar,  semangat menulis cerita itu begitu menggelora. Penggalan-penggalan perjalanan hidup saya bersama beliau tiba-tiba berlalu lalang dalam alam pikiran saya. Saya ambil laptop dari ruang kerja saya dengan tetap mengingat-ingat peristiwa-peristiwa yang mengesankan dan saya pedomani dalam menjalani kehidupan sampai saat ini.

"Ada apa,Mi?" Saya menyeka air mata saya sebelum menjawab pertanyaan sulung saya ini.

"Umi teringat mbah kaji umi.." Jawab saya masih terisak. 'Mbah kaji umi' adalah panggilan anak-anak saya kepada ibu saya ini. Saya mulai mengetik kata demi kata sambil sesekali terisak.
Nampaknya  sulung saya tidak begitu detil melihat perubahan mimik wajah saya yang nampak sedih ini. Ia sibuk dengan handphonenya yang dihubungkan dengan sound system kecil di ruang keluarga. Ia sedang menyiapakan satu surat dalam Alquran untuk ia dengarkan istilah Jawanya "nderes" ini. Kemampuan belajar si sulung ini memang dengan memaksimalkan indra dengannya.

"Mengapa umi sampai nangis begitu?" Ternyata ia masih memperhatikan saya setelah kesibukannya menyiapkan instrumen "nderes" Alquran ini.

"Mbah kaji umi itu kalau bulan Ramadhan begini selalu menjadi imam sholat tarawih..." Saya mulai bercerita tentang ibu saya ini.
"Terus mengapa umi menangis? Kangen mbah kaji umi ta?" Tanya sulung saya sembari tangan kirinya memutarkan tombol volume sound system, mengecilkan volume bacaan Alquran yang baru saja ia bunyikan. Saya kira ia tidak perduli dengan perubahan mimik muka saya ini, ternyata tidak; ia cukup perhatian.

"Sampai saat ini, umi belum menemukan di sekitar lingkungan kita ini ada imam tarawih perempuan, Kakak". Saya menata nafas saya yang tersengal menahan tangis. Ia begitu saksama mendengar cerita saya. Ini artinya, saya sudah menggangu dia untuk 'nderes' Quran. Saya tidak perduli, pertimbangan saya, semoga ini bagian pelajaran hidup yang perlu ia ketahui walau cuma sekedar cerita.
"Kalau membaca doa sesudah sholat tarawih enak, bisa disimak walaupun cepat". Saya meneruskan cerita saya dengan mata-mata yang berkaca-kaca. Entahlah, mengapa saya tiba-tiba begitu melankonis seperti ini. Mungkin karena rasa kagum saya kepada beliau ini, atau rasa bahagia memiliki ibu seperti beliau ini, atau rasa malu karena saya belum bisa memiliki kemampuan seperti beliau padahal beliau hanya menempuh pendidikan SR ( Sekolah Rakyat) setara sekolah dasar sementara saya mencapai pendidikan kesarjanaan.
"Mas Omy.. Mas Omy..." Tiba-tiba kami mendengar beberapa anak laki-laki memanggil nama sulung saya ini. Ia beringsut keluar sejenak sesudah ia tidak mendengar lagi saya menuturkan cerita tentang ibu saya ini. Seperti malam-malam Ramadhan lainnya, mereka suka bermain di gazebo sebelah rumah kami semenjak sulung saya pulang liburan pondoknya.
Jam masih menunjukkan pukul 23.00 -an terdengar  kemudian suara instrument patrol 'ditabuh' mereka. Suara drum dan kaleng bekas bersautan membentuk suara nada khas patrol untuk membangunkan orang sahur.
"Umi tadi malam sudah selesai menulis cerita tentang mbah kaji umi?"  Keesokan harinya sulung sulung saya bertanya antusias.
"Cerita apa sih, Mi?" Si bungsu ikut bertanya, sepertinya sangat ingin tahu.
"Nanti dibacakan umi ceritanya ya?"
"Oh, berarti sudah selesai gih?  Respon si sulung spontan.
Sementara seperti biasanya, si bungsu merengek ingin tahu. Ia merasa ada yang disembunyikan.
"Tadi malam Adik kan sudah bubuk, jadi tidak tahu kalau umi menulis cerita tentang perjalan hidupnya mbah kaji umi sambil nangis..." penjelasan saya sekilas kepada si bungsu. Ia seperti tidak terima, karena baru mengetahui pagi ini tentang insiden menangis saya tadi malam.
"Sekarang saja dibaca, Mi. Nanti jam delapan adik mau main sama David". Rajuk si bungsu manja.
"Adik, nanti umi nangis lagi lho."Si kakak menampakkan kekhawatirannya. Inilah hal yang saya sukai dari si sulung. Ia selalu hadir menghibur, menenangkan hati orang-orang sekelilingnya dalam usianya yang masih tergolong anak ini.
"Baiklah, umi bacakan sekarang ya. Tolong dibantu ambil laptopnya di meja depan ya, Dik!" Setelah sekian waktu menyaksikan debat kecil si sulung dan adiknya, saya memutuskan untuk membacakan  cerpen yang saya tulis tadi malam. Sambil menyelam minum air, memenuhi keingintahuan mereka dan berharap cerita tersebut jadi kisah teladan bagi keluarga kami.
"Laptopnya tidak ada, Mi"  Si Bungsu sudah balik setelah tidak menemukan laptop yang saya maksud.
" Di Meja kerjanya umi. Tadi malam dipindah abi" . Abi, panggilan ayah bagi anak-anak saya gabung dengan kami usai memberi makan unggas- unggas peliharaannya.
"Bismillah, semoga umi tidak menangis lagi". Saya tersenyum penuh arti kepada anak-anak dan suami saya usai menerima laptop dari si bungsu.
" Ibu saya bernama Siti Fathonah. Setelah menjalankan ibadah haji, nama beliau ditambahi. Aisyah dan sisinya ditiadakan, sehingga namanya menjadi Fathonah Aisyah ". Saya berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
" Mbah kaji umi itu naik hajinya kapan?" Si Bungsu menghentikan bacaan saya dengan pertanyaan polosnya.
"Setahun sesudah tragedi Mina pada tahun 1991 ketepatan waktu itu disebut Ibadah haji akbar; adalah ibadah haji yang wukufnya bertepatan dengan hari Juma'at". Sesudah menjelaskan ini, saya lanjutkan membaca cerpen lagi. Senangnya suasana puasa kala itu, walau saya sempat menangis gara-gara tulisan cerpen ini, Ramadhan kali ini ada hal baru,  saya mendapat kesempatan nulis cerpen di LISAN dan didukung kedua anak saya dan suami. Mereka mendengar cerita saya dengan saksama.
"Pantasan umi senang organisasi, wong mbah kaji umi dulu juga suka sibuk di muslimat NU dan Ikatan Haji Muslimat ". Ini tanggapan suami saya ketika saya membaca cerita tentang aktivitas publik ibu saya sesudah abah saya meninggal.
"Mbah kaji umi dulu juga jadi bu guru seperti umi ya?" Si Bungsu tanya lagi . Mungkin organisasi itu dianggap sebagai profesi.
"Mbah kaji umi dulu itu gurunya umi, guru ngaji Alquran . Beliau kemudian melanjutkan TPQ mbahnya umi ( ibunya Mbah kaji umi ) yang tempat TPQnya di mushola di belakang rumahnya mbah kaji umi. Tidak saja melanjutkan kegiatan TPQ, mbah kaji umi juga merenovasi mushola tersebut dengan minta sumbangan kepada para donatur. Tak Jarang beliau sholat hajat dulu sebelum meminta sumbangan..." Cerita saya dengan mata mulai berkaca- kaca. Perjuangan ibu saya ini memang maksimal dalam usia yang sudah lanjut, sekitaran 60 tahun waktu itu.
"...Selain berjuang untuk lembaga TPQ dan kegiatan di mushola seperti menambah kegiatan mengaji bandongan kitab-kitab salaf ibu saya juga ditunjuk masyarakat sebagai ketua pengurus TK Muslimat 45 yang didirikan oleh ayah saya bersama tokoh masyakarat setempat. .."  Saya lanjutkan membaca cerpen lagi.
" Umi kalau mau mengajukan bantuan, sholat hajat sepeti mbah kaji umi saja, biar sekolahnya umi bagus sepeti TPQnya mbah kaji umi". Ah ... Si sulung, bijak sekali cara dia memahami dinamika perjuangan saya selama ini.
"Gih,  Kak. Kakak, adik dan abi  juga membantu doa ya.." Saya jadi teringat cerita ibu saya sejak ayah saya meninggal toko pracagannya jadi sepi,  kata umi karena yang bantu doa berkurang.
"Ibu saya sukses menjadi teladan dalam menjalankan sholat secara berjamaah. Saya dan keluarga sampai detik ini hampir tidak pernah meninggalkan sholat jamaah. .." Belum selesai saya membaca cerpen pada jeda titik, si bungsu berkomentar
"Adik selalu sholat jamaah sama kakak  gih, Kak? " Si sulung yang dimintai persetujuan mengangguk. Tiap sholat Isya, mereka sholat berjamaah berdua, mumpung si sulung di rumah saya ingin tahu hasil hafalan Alqur'annya. Ini adalah cara saya untuk mengecek program tahfidzul Qur'an di samping melatihnya untuk jadi imam sholat dan melatih keduanya agar selalu rukun dan saling menyayangi.
"Adik dan Kakak memang hebat". Suami saya mengacungkan jempol menanggapi ujaran si bungsu. Saya ikut memujinya kemudian saya lanjutkan lagi membaca
" Begitu senangnya beliau sholat berjamaah, dalam sakitnyapun beliau tetap konsisten berjamaah. Selain ibadah sholat dengan jamaah ibu saya juga istiqamah dalam sholat nawafil seperti sholat dhuha sampai kurang lebih dua jam sebelum menghembuskan nafas terakhir..."
"Adik juga sholat dhuha lho, Mi" Si bungsu menyela cerita saya lagi.
"Iya, sip. Alhamdulillah adik dan kakak mau sholat dhuha" kata saya sembari saya mengacungkan kedua  jempol saya.
Sampai di sini saya membacakan cerita kepada mereka, ada sesak di dada ini, menahan haru dan rindu kepada ibu saya dan mengingat perjuangan beliau untuk keluarga dan masyakarat sekitarnya.
Yang belum saya bacakan dalam cerita itu adalah saat beliau memberitahukan kepada saya bahwa segala harta benda sudah dihibahkan kepada putri putrinya.
"Tugas umi sudah selasai mengatur kalian semua,  ini ada uang sholawat, saya titip agar dibagikan kepada orang-orang yang menyolati jenazahnya umi kelak. Perhiasan yang dipakai umi ini untuk kebutuhan umi di akhirat." Pernyataan tersebut waktu itu saya anggap lalu saja,  anak mana yang mengharap orang tuanya meninggal secepat itu, berharap beliau panjang umur dan sehat adalah keinginan kami anak-anaknya
Tidak begitu lama, ibu saya benar benar meninggal tanpa membuat anak-anaknya repot. Subuh masih sholat jamaah karena kondisi melemah beliau dibawa ke rumah sakit,   jam 10an masih sholat dhuha jam 11an koma dan akhirnya meninggal dunia.
Anak-anak saya dan suami saya tuntas mendengarkan cerita saya ini, satu persatu mereka pada aktifitas masing masing . Membaca cerita ini saya seperti mengeluarkan uneg uneg-uneg dalam hati: lega dan plong.
Kepada para pembaca cerpen ini mohon bantuan doa untuk kedua orang tua saya.




Senin, 26 Juni 2017

Mari Menjadi Pribadi Pemaaf

Jangan Hanya Meminta Maaf, Tapi Jadilah Pribadi Pemaaf

Oleh Astatik

Mepnews.id - Sejak 29 Ramadhan kemarin  (24 Juni 2017) kita telah menjumpai ucapan _Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin_ atau kalimat kalimat serupa yang mengandung arti meminta maaf selain ada untaian kata doa dan ucapan selamat. Untaian kalimat-kalimat tersebut banyak diposting dalam group WA maupun sosial media lainnya dengan berbagai bentuk seperti kalimat -kalimat yang diketik sendiri, atau copas, ada pula dibuat video, dan berupa foto diri dan Keluarga. Tidak ada yang salah dalam postingan tersebut, justru inilah yang patut kita syukuri karena moment Idul Fitri ini kita dengan ringan hati bersedia meminta maaf kepada sesama. Beruntunglah ada Idul Fitri seperti tradisi di negara kita ini, saling bersilaturrahim kepada sanak keluarga dan sahabat juga tak lupa di moment ini kita meminta maaf atas segala salah dan khilaf.

Ketika kita berjumpa langsung dalam bingkai silaturrahim, selain meminta maaf kita juga ada kesempatan memberi maaf. Ungkapan ini akan nampak ketika ada permintaan maaf lalu dibalas dengan jawaban

"Iya, sama-sama, saya juga mohon maaf lahir dan batin". Suatu interaksi  berbalas memberi maaf ini paling mudah kita jumpai saat bersalaman atau berjumpa langsung.

 Lalu, bagaimana saat kita belum ada kesempatan untuk berjumpa langsung? Sejak adanya handphone kita sudah menciptakan tradisi meminta maaf dengan media dan alat ini. Kita sudah terbiasa berSMS, bertelpon kemudian saat teknologi semakin canggih kita tinggal posting tulisan permohonan maaf kita ini di sosial media juga dalam group pertemanan, profesi dan keluarga seperti group WA.

 Sepanjang yang saya saksikan di sosial media Idul Fitri ini dipenuhi oleh ungkpaan permohonan maaf dan sepertinya tidak sebanding dengan ungkapan pemberian maaf. Coba kita amati sejenak, berapa banyak ungkapan permohonan maaf di sosial media ini akan dibalas oleh yang lain dengan memberi maaf semisal
" Iya, saya maafkan" atau "Sama- sama"  atau " Iya, saya sudah memaafkan ..." dan ungkapan lain yang serupa.  Atau bahkan ada postingan yang langsung menunjukkan pemberian maaf, untuk yang terkahir ini saya menjumpai  dalam group WA yang saya ikuti, yaitu  WAG Pengurus Cabang Ikatan Sarjana NU ( ISNU) Jombang di mana yang posting adalah ketua ISNU Jombang dengan kalimat ini

"Saya terima permintaan maafnya dan bagi yg nulis di grup ataupun di japri maupun yang tidak menuliskan dan yang tidak mengucapkannya saya berikan maaf dan keridhoan pada semua". Suatu postingan yang langka bagi saya, karena semua hampir membuat postingan "meminta maaf".

Gus Hanan Majdy, Ketua ISNU Jombang ini justru lebih dari itu, ia memberi maaf, baik kepada yang meminta maaf maupun tidak meminta maaf via sosial media.

Ada pula postingan senada, saya temui di WAG Sarjana Jombang dengan pemilik akun WA Ariel Sibarongan sebagai berikut

"Koncoku, Sak mestine aku duwe salah, lan sak mestine aku njaluk sepuro, kabeh koncoku wis ta sepuro
من العاءدين
والفاءزين
امين"

Mungkin kita sempat prihatin juga,  dari sekian postingan - postingan permohonan maaf, tidak semuanya dibalas dengan pemberian maaf, kalau di aplikasi facebook, mungkin yang sempat kita berikan ini hanya jempol "like", boleh jadi karena memang keterbatasan waktu atau karena permohonan maaf ini dianggap suatu _kelumrahan_  di Idul Fitri, padahal kalau kita memastikan  petunjuk Gusti Allah dalam  Al-Qur'an, bahwa hanya ada perintah memaafkan. Mari kita amati ayat -ayat Alquran berikut ini

Bahwa memberi maaf adalah ciri orang bertaqwa:
 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”) – (QS. Al-Imran: 133-134).

Dalam surat lainnya perintah agar  menjadi pribadi pemaaf sebagai berikut.
"Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” – (QS. Al-A’raf : 199).

Pemberian maaf dinilai sebagai tindakan baik dijelaskan sebagai berikut.
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” – (QS. Al-Baqarah : 263).

Allah adalah Dzat Yang Maha Pemaaf disebutkan dalam ayat berikut ini.
  “Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa.”  – (QS. An-Nisa : 149).

Kita memang dibolehkan untuk tidak memaafkan kepada orang yang berbuat jahat kepada kita dengan cara membuat pembalasan dengan kejahatan serupa, namun Allah menyuruh untuk memaafkan dan bersabar, sebagaimana ayat Qur'an berikut ini.
“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” – (QS. Asy-Syura : 43).

Meminta maaf di dalam Al-Qur’an tidak ditemukan ayat meminta maaf atas perbuatan yang telah kita perbuat kepada seseorang. Akan tetapi di dalam Al-Qur’an kita diajarkan untuk selalu meminta ampunan kepada Allah SWT, karena apabila kita berbuat kesalahan kepada orang lain, sesungguhnya kita telah berbuat dosa. Yang dapat mengampuni dosa-dosa kita adalah Allah SWT, sehingga kita meminta ampunan dari Allah SWT atas dosa kita tersebut.

“Dia berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” – (QS. An-Naml : 46).

 “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.”– (QS. Hud : 3).

Dalam hadist-hadist Nabi tentang Memaafkan kesalah orang lain  juga disebutkan yang artinya sebagai berikut:

“Tidak halal apabila seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Apabila telah lewat waktu tiga hari tersebut maka berbicaralah dengannya dan beri salam. Jika ia menjawab salam maka keduanya akan mendapat pahala dan jika ia tidak membalasnya maka sungguhlah dia kembali dengan membawa dosanya, sementara orang yang memberi salah akan keluar dari dosa.”(HR. Muslim).

“Pintu-pintu surga akan dibukakan pada hari Senin dan Kamis, lalu Allah akan memberi ampunan kepada siapapun yang tidak menyekutukan-Nya kecuali seorang laki-laki yang berpisah dengan saudaranya. Maka Allah berkata: tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga ia berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai.” (HR. Muslim).

“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.”(HR. Thabrani)

“Jika kamu membuat suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (HR. Bukhari)

Ini seharusnya bisa memahamkan kepada kita bahwa kita memberi maaf kepada orang yang berbuat salah kepada kita tidak harus menunggu orang tersebut meminta maaf. Perintah memberi maaf yang sangat dianjurkan ini tentunya terkandung makna agat kita tidak memiliki dendam kepada orang yang sempat menyakiti hati kita.
Sementara dalam budaya kita yang selalu minta maaf ini saya pahami suatu bentuk etika dalam menempatkan diri di tengah masyarakat, berupa pengakuan akan perilaku dan sikap serta ungkapan lisan dan tulisan yang tidak mesti benar  sehingga kita merasa berkepentingan untuk meminta maaf jika kita sampai memasuki ranah kesalahan tersebut.

Pada akhir tulisan ini saya mencoba menggarisbawahi bahwa kita sebagai manusia yang tidak lepas dari salah agar tidak lupa untuk mengungkapkan pemberian maaf selain kita berkesempatan meminta maaf, ungkapan yang tulus dari dalam hati ini menjadi tanda keimanan kita kepada Allah SWT.

( Penulis: Ketua PKBM  BESTARI jombang, pengurus cabang Ikatan Sarjana NU Jombang, guru MTsS Darul Faizin Mojowarno)

UNTUNG ADA MUDIK

Untung Ada Mudik

Oleh Astatik
Mepnews.id - Sedih ditnggalkan Ramadhan itu pasti. Seseorang dengan keimanan yang bagus atau standar saja bahkan mungkin keimanan yang tipis akan merasa sedih dengan kepergian Ramadhan.

Ramadhan itu bukan hanya untuk memperbaiki dan menambah kwalitas ibadah ritual, tapi  juga ibadah sosial.

Ibadah ritual  sudah jelas, ada sholat tarawih  20 rakaat ditambah sholat witir 3 rakaat usai shalat isya yang hanya ada di bulan Ramadhan. Tadarus Al-Qur'an dan pengajian kitab salaf ba'da sholat subuh dan ba'da sholat ashar sampai menjelang berbuka adalah suasana religius yang cukup merebak di masyarakat kita pada bulan ini.

Sementara ibadah ritual gencar dilakukan tanpa komando , Ramadhan juga membangkitkan semangat beribadah sosial. Lihatlah bagaimana santunan anak yatim, kepedulian  kepada sesama dalam kondisi kurang beruntung begitu merata di seluruh daerah di masyarakat kita ini. Dampak dari ibadah sosial ini siapapun juga bisa merasakan. Berbagi kepada sesama tidak ada kriteria khusus, semuanya akan merasakan dampaknya, entah apa niat mereka beribadah sosial, secara lahir kita bisa melihat bahwa ibadah sosial adalah laku baik bagi para pelakunya. Ada yang berbagi makanan dan minuman, ada yang berbagi pakaian layak pakai, ada yang berbagi uang, semuanya akan merasakan dampaknya, kepuasan bisa menyenangkan orang lain, dan bersyukur atas pemberian dan kepekaan sosial orang lain adalah nampak dalam laku lahir di tengah masyarakat.

Kita bisa melihat liputan berita media cetak, media elektronik dan media online selama bulan Ramadhan ada saja yang diberitakan perihal ibadah sosial anggota masyarakat kita ini.

Selain ibadah sosial, geliat ekonomipun nampak pesat, tukang tambal ban, tukang potong rambut, pengusaha catering, pengusaha mebelair, pengusaha pakaian, percetakan, jasa pengirimaan barang, pemilik toko bangunan dan lain sebagainya tersentuh pesatnya daya beli masyarakat di bulan ramadhan.

Iya, tentu saja sedih ketika Ramadhan tinggal hitungan jam ini akan berakhir. Kehilangan dengan segala semangat ibadah ritual dan sosial yang sangat istimewa karena janji Allah akan melipatgandakan pahala bagi pelakunya.

Bersyukur, ketika Ramadhan benar benar berlalu, kita memiliki tradisi silaturahim. Walhasil ada tradisi mudik yang hanya ada di lingkungan kita bangsa Indonesia ini. Mudik atau pulang kampung menjelang hari raya idul fitri ini seolah menjadi ritual di tengah semangatnya beribadah di bulan Ramadhan. Masyarakat dan pemerintah saling bekerjasama.

Di Jombang misalnya, ada gerakan pemuda ansor yang bersinergi dengan polres untuk menjaga tertibnya arus mudik ini. Kementerian perhubungan juga mengeluarkan aturan pula bagi truk  barang pada kriteria khusus  dilarang beroperasi di jalan nasional dan jalan tol pada sekitar lebaran idul fitri ( peraturan menteri perhubungan PM 40 tahun 2017). Tempat penimbangan juga akan dijadikan _rest area_ . Selain perlakuan khusus masyarakat umum dan pemerintah pada musim mudik ini, dukungan perusahaan dan organisasi politik pun juga ada. Mereka menyediakan armada untuk mudik gratis bagi masyarakat yang akan mudik bersama keluarganya. _Rest area_ juga disediakan oleh pemerintah, dan swasta.

Untung ada mudik dan untung semua elemen masyarakat serta pemerintah mendukung. Tanpa mudik, Ramadhan kita hambaran, berhenti atau terhenti begitu saja. Mungkin tidak ada silaturahim massal, mungkin tidak ada kumpul keluarga yang berskala besar dan nasional, mungkin tidak ada reuni sekolah, mungkin tidak ada tradisi bersalaman sambil mengucapkan "minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin".

Untung ada mudik, Ramadhan kita berakhir bahagia, tidak bahagia sendiri tapi bahagia bersama, bahagia nasional karena mudik hanya ada di Indonesia. Mungkin, karena mudik inilah ada liburan sekolah yang lebih panjang, cuti bersama bagi pegawai dan pekerja demikian juga.

Selamat mudik, semoga kita bisa berjumpa lagi dengan Ramadhan tahun depan.

( Penulis: Guru MTsS Darul Faizin Mojowarno  Jombang, Ketua PKBM BESTARI jombang, pengurus cabang Ikatan Sarjana NU Jombang)

Senin, 05 Juni 2017

Selamat Berpuasa, Anakku

Selamat Berpuasa, Anakku.

Oleh : Astatik

Mepnews.id - Besok kita umat Islam Indonesia melaksanakan puasa Ramadhan. 1438H. Baru saja saya dapat pengingat di WAG untuk segara berniat puasa untuk hari esok, dan juga niat berpuasa sebulan penuh , untuk niat yang kedua ini faedahnya jika ada hari-hari berikutnya lupa berniat puasa.

Tentang niat puasa ini, saya ingat masa kecil saya, abah selalu _menuntun_ niat puasa yang dinyatakan dalam hati ini. "Jangan lupa, niat itu tempatnya dalam hati, ketika diucapkan hati juga ikut niat". Ini cara ibu saya mengajari saya niat, baik berniat puasa atau berniat ibadah ritual lainnya.

Kini, ketika saya sudah menjadi orang tua, apa yang diajarkan orang tua saya kepada saya, saya berikan pula kepada anak-anak saya. Baru saja, saya mendikte bungsu saya untuk niat puasa yang dinyatakan dalam hati dengan bahasa Indonesia. " Ayo, hatinya Adik bicara begini: Aku berniat puasa Ramadhan untuk hari esok fardlu karena Allah".  Itu cara saya mengajari dia beniat puasa. Sama halnya kepada si sulung, ia juga saya dikte atau terkadang didikte abi untuk berniat puasa Ramadhan . Kemudian kami bersiap sholat jamaah isya dan sholat tarawih di rumah.

Si Kakak usul agar sholat witirnya langsung digabung 3 rakaat. Saya mengenyeritkan kening.
"Iya, dulu Cak Brahim juga tiga raakat langsung" suami saya menjelaskan.

Usai tarawih, si kakak menghidupkan suara mengaji Al-Quran  dengan sound yang terdengar serumah.

"Kakak tadarusan,Bi". Ia memberi tahu abinya. Kami memaklumi cara dia mengaji, karena ia lebih mudah menyimak alQuran secara audio daripada langsung membaca tulisan. Begitu pula ketika ia menambah hapalan AlQurannya. Ia sedang berproses mengahafalkan AlQuran saat ini.
Saya kira memang penting mengajari anak -anak berpuasa dan amalan-amalan ibadah bulan puasa dengan benar dan tepat.Pada pembelajaran mereka kita tidak elok jika coba-coba, wajib kira seriusi. Ini artinya, anak diajari puasa, tidak hanya ia motivasi untuk kuat menahan lapar, haus dan menahan amarah, namun juga perlu diberikan pengetahuan hal-hal terkait puasa ini. Tentu saja dengan cara yang mudah dipahami; orang tua pasti bisa mengolah kata-kata sederhana untuk memberi pengetahuan baru dan tidak perlu menunggu diajarkan di sekolah bukan?

Di rumah selama puasa nanti pasti ada saja kendala bagi si kecil untuk berpuasa, salah satunya memberi pemahaman yang tepat ketika ibu tidak sedang berpuasa karena berhalangan secara syara'i yaitu datangnya masa haidl/ menstruasi.

Saya punya pengalaman tentang hal ini, tidak saja soal berpuasa Ramadhan, perihal terhalangnya melakukan ibadah ritual lainnya seperti tidak boleh sholat wajib ataupun sholat sunnah;  tidak boleh membaca, menyentuh dan membawa Al Qur'an; tidak boleh berdiam di masjid dan lain lainnya, saya tidak membahas detail tentang hal ini. Point yang saya jelaskan di sini bagaimana kita menjelaskan dengan benar dan mudah dipahami dan diterima anak-anak kita yang masih berusia belia .

Kita tentu ingin apa yang kita sampaikan kepada anak kita tepat dan tidak menimbulkan interpretasi lain yang nantinya menjebak kita sendiri pada penjelasan yang tidak tepat bahkan mungkin salah.

Suatu hari,ketika saya berhalangan puasa Ramadhan karena menstruasi,  saya lupa tidak menyembunyikan kegiatan makan saya di siang hari.

" Umi kok tidak puasa?" Sulung saya yang waktu itu usia 8 tahun dan sudah berpuasa penuh ( sampai waktu maghrib) mendapati saya sedang makan. Rumah saya beranggotakan 4 orang, suami dan 2 anak laki-laki saya. Saya kira saya sudah menyembunyikan kegiatan makan saya ini dengan baik, karena meskipun kita, para ibu  tidak boleh puasa, tetap wajib menghormati orang yang sedang  berpuasa dengan menyembunyikan kegiatan makan dan minum di siang hari. Memang waktu itu saya ceroboh, bukan karena saya takut anak saya tahu, tapi karena kewajiban menghormati orang yang sedang berpuasa.

" Umi tidak boleh puasa, karena pipisnya umi ada darahnya, Kakak".  Dia menerima alasan tersebut, terbukti dia tidak meminta untuk batal puasa gara-gara mengetahui saya tidak berpuasa.

" Kenapa sih pipisya Umi ada darah e?" Ini pertanyaan si adik yang waktu itu saya alpa tidak sholat berjamaah karena menstruasi juga. Kakaknya sudah tidak tanya tanya lagi, karena ia pasti sudah paham dengan  siklus biologis yang saya alami ini.

" Semua orang perempuan kalau sudah gede pasti mengalami pipisnya ada darahnya". Saya menjelaskan sesederhana dia bertanya.

"Sudah gede itu contohnya seperti Mbak Icha dan Mbak Sari. Kalau masih kecil seperti adik Cindy, Aura dan Aurel pipisnya tidak ada darahnya".  Saya menjelaskan sekaligus saya ambil contoh secara kontekstual anak anak perempuan di lingkungan saya. Waktu itu bungsu saya ini berusia 5 tahunan. Ia sudah terbiasa sholat dhuha sebelum berangkat sekolah, meniru kakaknya yang juga mengawali sekolahnya dengan sholat dhuha. Sungguh sayang kalau mereka sudah terbiasa beribadah ritual dengan baik dan rutin akan terkontaminasi oleh pengalamannya mengetahui ibunya tidak menjalankan ibadah ritual karena terhalang oleh siklus biologis  namanya menstruasi ini.

Penjelasan ini rupanya cukup berguna bagi pengetahuannya di bidang mata pelajaran fiqih  kelak saat mereka di jenjang belajar lebih tinggi ( kedua anak saya sekolah di madrasah yang memberi materi agama lebih spesifik dan macam-macam).

"Adik, kalau pipisnya ada darah e itu selain tidak boleh sholat, juga tidak boleh mengaji dan membawa Al-Quran, tidak boleh puasa; nanti di sekolahnya Adik pasti ada pelajaran ini". Pada kesempatan lain, saya menjelaskan seperti itu, bermaksud memasukan materi fiqih pada pengalaman belajarnya ini.

Kini bungsu saya berusia 9 tahun, ia sudah terbiasa dengan siklus biologis saya ini, sehingga terkadang ia  akan tanya begini

" Umi sudah sembuh ta pipisnya?" Pertanyaan ini  biasanya muncul saat ia ingin sholat jamaah di musholla warga, namun ia tidak bisa melaksanakan karena kami sudah berkomitmen bahwa ketika saya berhalangan sholat jamaah entah karena saya sedang tidak di rumah atau karena saya menstruasi, maka ia wajib menemani abinya sholat di rumah. Kami berkomitmen untuk mengisi aktivitas rumah kami dengan sholat jamaah.

 Untuk mendukung komitmen-komitmen dalam keluarga tentunya dibutuhkan dasar dan aturan yang jelas untuk menjalankannya. Maka dari itu, memberi penjelasan apapun kepada anak- anak kita juga dengan penjelasan logis dan dan bisa pula masuk ke ranah empirik tergantung kapan saat yang tepat untuk diberikan.

Tidak ada hal tabu bagi anak-anak kita ketika kita bisa memberi penjelasan yang tepat atas keingintahuannya itu. Penjelasan yang tepat ini dapat dimaknai misalnya menjelaskan dengan menggunakan bahasa dan kosakata yang mudah dipahami, jujur saat memberi informasi tidak mengada -ada.

Marilah mengajari anak anak ibadah  puasa  dan amalan amalan baik di bulan Ramadhan secara holistik agar mereka memahami hakekat ibadah yang sesungguhnya, bukan sekedar rutinitas atau formalitas tahunan saja, yang akan hilang tak berkesan ketika ramadhan telah berlalu.
( Penulis: ketua PKBM  BESTARI dan Pengurus Cabang Ikatan Sarjana NU Jombang pada departemen keluarga dan perempuan)

Pergeseran Tradisi Patrol Sahur Ramadhan

Pergeseran Tradisi Patrol  Saat Sahur Ramadhan

Mepnews.id - Kurang lebih seminggu sebelum bulan Ramadhan tiba, anak -anak dan remaja di daerah saya biasa menyiapkan bahan untuk dijadikan instrumen kegiatan rutin membangunkan warga menjelang makan sahur. Instrumen ini dibuat oleh sekelompok anak muda  dalam suatu group yang dinamai sebagai "patrol".

Bahan-bahan instrumen patrol ini antara lain botol galon air mineral, kaleng bekas, bahkan drum ( serupa kaleng tapi berdiameter kurang lebih 75cm), bekas bungkus semen dan lem yang dibuat sendiri dari  olahan tepung tapioka ( bahasa Jawanya tepung kanji).
Bekas bungkus semen ini untuk menutup salah satu sisi kaleng yang direkatkan dengan lem buatan sendiri tersebut, lalu dijemur dalam waktu beberapa hari. Sangat terasa Ramadhan begitu dirindukan jika suara -suara instrumen ini mulai ditabuh ( dipukul) untuk dicoba bunyi suaranya. Kalau misalnya suaranya tidak sesuai harapan, mereka biasa membuat lagi. Dapat dibuat tanda, bahwa jika mereka sudah sibuk membuat instrumen patrol ini, maka Ramadhan segera datang.

Saya masih ingat ketika jam menjelang makan sahur, ada group patrol yang keliling membangunkan warga untuk sahur. Mengungkapkan kata 'sahur' ada iramanya.

"Sahur... sahur... dreng ...dreng.... dreng... " suara para pemuda  dipadu dengan tabuhan instrumen patrol yang khas  diucapkan berkali kali  sambil jalan  berkeliling dengan jalan kaki pula.
 Adakalanya kalau  lewat di depan rumah saya ada panggilan begini
"Bu Tatik, sahur..."
"Bu Tatik , sahur..."
Masa masa seperti itu begitu mengesankan karena patrol sahur adanya pada Ramadhan saja.

Yang saya jelaskan di atas adalah masa masa Ramadhan dua tiga tahun yang lalu. Kini patrol tidak hanya ada saat bulan Ramadhan, tapi sudah menjadi salah satu seni yang dikembangkan oleh masyarakat yang dipadukan dengan instrumen musik modern dan diramaikan dengan aksi joget para seniman patrol baik laki -laki maupun perempuan Penyajiannya pun tidak pada waktu sahur, tapi sudah menjadi seni yang dikembangkan untuk memperkaya khazanah seni tradisional yang menghibur dan boleh jadi menambah uang saku bagi para anggota group seni patrol ini.

Rupanya, seni patrol yang sudah dimodifikasi tersebut digunakan pula oleh masyarakat untuk kegiatan membangun warga menjelang makan sahur. Walhasil, kini sering saya mendengar sayup sayup suara orgen mendendangkan lagu dangdut atau qosidah modern. Jarang sekali saya mendengar kata

" sahur... sahur... sahur... " yang saling bersahutan dengan suara instrumen khas patrol buatan sendiri.

Ada yang hilang dalam tradisi sahur Ramadhan ini;  saya sudah tidak menjumpai suka cita anak-anak yang membuat instrumen patrolnya. Mungkin memang karena mereka sibuk dengan masa kekiniannya, atau memang mereka sudah tahu diri dengan kehadiran group patrol yang lebih bonafid instrumen musik patrolnya. Entahlah, pergeseran ini kenapa bersifat mengganti, bukan saling melengkapi?

"Meski sekarang agak bergeser dengan campuran musik dangdut, biarlah. Ya karena sepi saat jam sahur itu kan mengkhawatirkan, bisa ndak bangun karena kebablasan".

Itu cara saya menghibur diri dan upaya saya mengapresiasi budaya yang berkembang di tengah lingkungan yang saya diami.

Bagaimana tradisi patrol untuk membangunkan warga untuk makan sahur di daerah Anda?

( Astatik, ketua PKBM BESTARI jombang)