Kamis, 27 April 2017

Umi Kok Tidak Puasa?

Umi Kok Tidak Puasa?

Sebentar lagi bulan Ramadhan, di bulan ini  semua muslim yang sudah baligh ( dewasa) diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh.  Apakah Bunda masih ingat bahwa para Bunda memeliki waktu-waktu yang tidak diperkenankan  berpuasa karena haid ( menstruasi)? Lalu, bagaimanakah cara Bunda menjelaskan kepada putri putra kita?

Saya punya pengalaman tentang hal ini, tidak saja soal berpuasa Ramadhan, perihal terhalangnya melakukan ibadah ritual lainnya seperti tidak boleh sholat wajib ataupun sholat sunnah;  tidak boleh membaca, menyentuh dan membawa Al Qur'an; tidak boleh berdiam di masjid dan lain lainnya, saya tidak membahas detail tentang hal ini. Point yang saya jelaskan di sini bagaimana kita menjelaskan dengan benar dan mudah dipahami dan diterima anak-anak kita yang masih berusia belia .

Kita tentu ingin apa yang kita sampaikan kepada anak kita tepat dan tidak menimbulkan interpretasi lain yang nantinya menjebak kita sendiri pada penjelasan yang tidak tepat bahkan mungkin salah.

Suatu hari,ketika saya berhalangan puasa Ramadhan karena menstruasi,  saya lupa tidak menyembunyikan kegiatan makan saya di siang hari.

" Umi kok tidak puasa?" Sulung saya yang waktu itu usia 8 tahun dan sudah berpuasa penuh ( sampai waktu maghrib) mendapati saya sedang makan. Rumah saya beranggotakan 4 orang, suami dan 2 anak laki-laki saya. Saya kira saya sudah menyembunyikan kegiatan makan saya ini dengan baik, karena meskipun kita, para ibu  tidak boleh puasa, tetap wajib menghormati orang yang sedang  berpuasa dengan menyembunyikan kegiatan makan dan minum di siang hari. Memang waktu itu saya ceroboh, bukan karena saya takut anak saya tahu, tapi karena kewajiban menghormati orang yang sedang berpuasa.

" Umi tidak boleh puasa, karena pipisnya umi ada darahnya, Kakak".  Dia menerima alasan tersebut, terbukti dia tidak meminta untuk batal puasa gara-gara mengetahui saya tidak berpuasa.

" Kenapa sih pipisya Umi ada darah e?" Ini pertanyaan si adik yang waktu itu saya alpa tidak sholat berjamaah karena menstruasi juga. Kakaknya sudah tidak tanya tanya lagi, karena ia pasti sudah paham dengan  siklus biologis yang saya alami ini.

" Semua orang perempuan kalau sudah gede pasti mengalami pipisnya ada darahnya". Saya menjelaskan sesederhana dia bertanya.

"Sudah gede itu contohnya seperti Mbak Icha dan Mbak Sari. Kalau masih kecil seperti adik Cindy, Aura dan Aurel pipisnya tidak ada darahnya".  Saya menjelaskan sekaligus saya ambil contoh secara kontekstual anak anak perempuan di lingkungan saya. Waktu itu bungsu saya ini berusia 5 tahunan. Ia sudah terbiasa sholat dhuha sebelum berangkat sekolah, meniru kakaknya yang juga mengawali sekolahnya dengan sholat dhuha. Sungguh sayang kalau mereka sudah terbiasa beribadah ritual dengan baik dan rutin akan terkontaminasi oleh pengalamannya mengetahui ibunya tidak menjalankan ibadah ritual karena terhalang oleh siklus biologis  namanya menstruasi ini.

Penjelasan ini rupanya cukup berguna bagi pengetahuannya di bidang mata pelajaran fiqih  kelak saat mereka di jenjang belajar lebih tinggi ( kedua anak saya sekolah di madrasah yang memberi materi agama lebih spesifik dan macam-macam).

"Adik, kalau pipisnya ada darah e itu selain tidak boleh sholat, juga tidak boleh mengaji dan membawa Al-Quran, tidak boleh puasa; nanti di sekolahnya Adik pasti ada pelajaran ini". Pada kesempatan lain, saya menjelaskan seperti itu, bermaksud memasukan materi fiqih pada pengalaman belajarnya ini.

Kini bungsu saya berusia 9 tahun, ia sudah terbiasa dengan siklus biologis saya ini, sehingga terkadang ia  akan tanya begini

" Umi sudah sembuh ta pipisnya?" Pertanyaan ini  biasanya muncul saat ia ingin sholat jamaah di musholla warga, namun ia tidak bisa melaksanakan karena kami sudah berkomitmen bahwa ketika saya berhalangan sholat jamaah entah karena saya sedang tidak di rumah atau karena saya menstruasi, maka ia wajib menemani abinya sholat di rumah. Kami berkomitmen untuk mengisi aktivitas rumah kami dengan sholat jamaah.

 Untuk mendukung komitmen-komitmen dalam keluarga tentunya dibutuhkan dasar dan aturan yang jelas untuk menjalankannya. Maka dari itu, memberi penjelasan apapun kepada anak- anak kita juga dengan penjelasan logis dan dan bisa pula masuk ke ranah empirik tergantung kapan saat yang tepat untuk diberikan.

Tidak ada hal tabu bagi anak-anak kita ketika kita bisa memberi penjelasan yang tepat atas keingintahuannya itu. Penjelasan yang tepat ini dapat dimaknai misalnya menjelaskan dengan menggunakan bahasa dan kosakata yang mudah dipahami, jujur saat memberi informasi tidak mengada -ada  .

Rabu, 01 Maret 2017

TULISANKU DI MEPNESW

Sudah Tepatkah UNBK bagi Pendidikan Nonformal Berlaku Tahun 2017 Ini?

Oleh: Astatik

Mepnews.id _ Rencana diberlakukannya Ujian Nasional Berbasis Komputer ( UNBK) bagi pendidikan kesetaraan( pendidikan nonformal) yang  lebih banyak diselenggarakan lembaga nonformal swasta ( sebut Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat /PKBM) sesungguhnya mendongkrak semangat pengelola untuk mengelola layanannya lebih berkwalitas.
Saya pahami bahwa pemerintah berasumsi positif bahwa PKBM dapat menjalankan kebijakan tersebut. Patut bersyukur!

Pada konteks standart proses dan standar sarana prasarana di PKBM, perlu dipertimbangkan pula kebijakan ini akankah terlaksana dengan baik atau tidak. Menukil UU Sisdiknas 2003 tentang posisi  pendidikan nonformal di antara penyelenggaraan pendidikan formal

Bagian Kelima
pendidikan Nonformal
Pasal 26
(1)Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai  pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

 Sebagai pendidikan yang berfungsi sebagaimana dituangkan dalam ayat 1 pasal 26  dalam UU sisdiknas ini memang yang berlangsung di tengah masyarakat bahwa peserta didik nonformal adalah mereka yang terhalang masuk pendidikan formal karena urusan kemampuan berpikir, dan atau kemampuan dana pendidikan dan  atau kesempatan belajar yang terbatas. Ada pula yang terhalang masuk pendidikan formal karena tidak memenuhi syarat masuk pendidikan formal ( karena batas usia yang sudah lewat misalnya)

 Beda dengan peserta didik formal yang dapat dipastikan ketika mereka belajar di pendidikan formal sudah jelas memilki komitmen belajar dengan seperangkat keharusan yang tentunya mereka siap menaatinya. Mereka datang untuk mendaftarkan diri, mau berpakaian seragam yang telah ditentukan, masuk tiap hari rata rata  6 jam sehari dan komitmen komitmen lainnya. Andai ada sebagian peserta didik yang tidak mampu untuk mengikuti aturan aturan yang ada, penyelenggara pendidikan formal ada dukungan dana untuk meyelesaikan kendala ini untuk menyusun kegiatan pendidikan formal seperti tambahan pelajaran, kursus komputer, home visit, parenting dan lain lain yang dijabarkan dalam rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah yang semuanya itu sudah didukung oleh dana semisal bantuan regular  dana BOS dan BOSDA.
Itu persoalan dukungan dana.

Selain persoalan dana, sebagai pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti dan atau pelengkap pendidikan formal, penyelenggara pendidikan nonformal berjuang keras agar mereka yang tak terlayani di formal tetap bisa belajar.Dengan kondisi real seperti ini, apakah mungkin peserta didik nonformal dimintai komitmen untuk melengkapi perangkat belajarnya dengan biayanya sendiri?
Saya memperoleh informasi, untuk mengikuti UNBK, sekolah formal ada yang meminta biaya ujian ini kepada peserta didiknya Rp 500.000 ( lima ratus ribu ). Ini tentunya tidak mungkin ditiru oleh sekolah nonformal ( PKBM), mereka mau belajar saja sudah bagus, kalau mereka dimintai biaya UNBK seperti sekolah formal,mungkinkah?
Belum lagi kemampuan mereka dalam mengoperasikan komputer. Sekali lagi intake di pendidikan formal lebih bagus dari pada intake di pendidikan nonformal.

Sarana dan prasaranapun sangat terbatas di pendidikan nonformal. Solusi menggabung  pelaksanan UNBK di sekolah formal masih menimbulkan beban berat bagi penyelenggara pendidikan nonformal, memikirkan waktu  untuk melatih peserta didik mengoperasikan komputer, mengingat mereka belajar tatap muka yang ditetapkan pendidikan nonformal kurang dari 100% ( kita baca kembali standar proses pendidikan kesetaraan, permen no 3 tahun 2008) Penyelenggara pendidikan nonformal juga berpikir keras menambah dana untuk biaya sewa komputer dan  biaya pemakaian listrik dan internet.

Tulisan ini hanya analisa dangkal, namun real perbedaan yang terjadi antara pendidikan formal dan nonformal nampak pada pasal 26 ayat 1 UU Sisdiknas tahun 2003 ini.


Penulis adalah Kepala Lembaga Pendidikan Nonformal PKBM BESTARI Jombang Jawa Timur.


Ora Ana Kebo Kabotan Sungu

Mepnews.id _ "Fida, Mengapa tidak dijaga ayahnya saja anak ini?" Tanya saya kepada murid Paket C yang membawa anaknya dalam kegiatan belajarnya.
"Kasihan, Bu. Ayahnya sudah seharian berkerja". Jawabnya jujur dan bukan mengeluh. Mirip suatu pernyataan hati, bahwa ia sebagai istri mampu bekerjasama dengan suaminya untuk menyelesaikan tahapan hidup yang mereka lalui bersama.

Suatu kali,di tengah kegiatan belajarnya, anaknya yang masih balita ini BAB dipopoknya. Ia keluar kelas, dengan kasih sayangnya ia  ceboki dan ganti popok anaknya ini. Setelah bersih dan rapi, ia kembali ke kelas melanjutkan belajar, dan sempat mempresentasikan hasil diskusi kelas di kelompoknya.

 Afida Yurika nama siswa ini, usianya kurang dari 20 tahun. Di kelas Paket C ini, ia tergolong siswa pandai dan aktif, tidak pernah absen dalam belajarnya. Dalam kondisi hujan, ia dan pamannya yang juga teman sekelasnya di Paket C selalu datang, dan ia tetap membawa buah hatinya ini.

Masih teringat saat ia mendaftarkan dirinya diantar suaminya di tengah hujan deras siang hari, energik sekali cara dia menjaga anaknya dari terpaan guyuran hujan. Melihat pasangan suami istri yang masih muda ini, membuka cakrwala baru bagi saya, "ternyata kedewasaan tidak selamanya diukur dari usia, namun mental yang siap untuk menjalani hidup"

Afida Yurika, siswa Paket C saya ini, saya bangga memiliki dia, sosok siswa yang ingin meningkatkan kwalitas pendidikannya pasca pernikahan dininya, dan ia ternyata siap dengan konsekwensi sebagai orang tua, tidak berpangku tangan dengan bantuan keluarganya, tidak mengeluh dan bisa memahami orang lain ( suaminya) sehingga ia ringan untuk berangkat ke tempat belajar Paket C dengan membawa buah hatinya saat cuaca bagus atau buruk di waktu malam.

Afida Yurika, sosokmu mempresentasikan peribahasa Jawa " Ora ana kebo kabotan sungu". Tidak ada orang tua yang merasa terbebani oleh kesibukan untuk merawat anaknya dalam kondisi apapun, itu makna peribahasa Jawa tersebut.
( Astatik, ketua penyelengara Paket C PKBM BESTARI Jombang)



Moral Baik Dimulai dari  Keihlasan Menata Alas Kaki ( Sandal dan Sepatu)

Mepnews.id _ Foto ini  saya peroleh dari postingan foto facebook salah satu sahabat facebook yang konsen dengan perkembangan dunia pendidikan. Ini situasi di Pondok Pesantren Subulussalam Semarang.

Foto ini mengingatkan saya masa masa menjadi santriwati. Waktu itu, menata alas kaki lebih diutamakan kepada para kyai dan keluarganya. Saya juga sampai kini menemukan tradisi "tawadhu" ini . Kadangkala sayapun meskipun bukan pengasuh pesantrennya, mungkin hanya tamu, sandal saya tertata rapi tinggal memakai, sebagaimana foto yang saya sertakan ini.
Saya menyimpulkan, berarti tradisi menata alas kaki oleh santri itu juga diperuntukkan bagi para tamu tamu pengasuh pesantrennya.

Saya sebut tradisi "tawadhu" karena menata alas kaki adalah prilaku yang menampakkan sikap kerendahan hati pelakunya. Bagaimana tidak rendah hati, alas kaki itu memiliki bagian  kotor di bawahnya, dengan ringannya mereka mau menata agar pemiliknya mudah memakainya. Selain mudah memakainya, alas kaki yang tertata rapi mempengaruhi orang berada di tempat itu tetap menjaga kebersihan alas kaki tersebut, sehingga sungkan untuk menaruh alas kaki seenaknya, menginjak yang sudah ada atau membiarkan bagian bawah yang kotor terbalik.

Kalau tidak punya sifat rendah hati, apakah mungkin seseorang mau melakukan hal itu?  Untuk orang lain? Saya yakin tidak semudah itu.

Kini rupanya tradisi ini tidak lagi diperuntukkan bagi para pengasuh pondok pesantren saja, tapi untuk tamu -tamu beliau, juga orang-orang yang sedang melepas alas kakinya .

Dalam foto yang saya sertakan ini, bahkan menata alas kaki dilakukan oleh temannya untuk teman teman lainnya yang berada di tempat ibadah. Tentu saja, siapapun tidak akan berani melepas alas kakinya sembarangan jika kondisi alas kaki sudah tertata rapi seperti itu. Ini termasuk indikasi berhasilnya tradisi menata alas kaki untuk membentuk karakter baik,antara lain:
1. Bagi yang menata alas kaki, ia adalah golongan orang yang rendah hati. Mau dengan senang hati melakukan hal itu untuk orang lain
2. Tradisi ini berdampak pada sikap menghargai orang lain,menghargai hasil dan kerja orang lain, sehingga menumbuhkan sikap tidak menaruh alas kaki semuanya sendiri.
3. Tertatanya alas kaki sedemikian rupa akan menjaga kebersihan alas kaki tentunya bersih pula kaki pemakainya.

Anda setuju dengan pendapat saya ini?

(Astatik, PKBM BESTARI)


Rumah,  Sekolah  Terbaik Bagi Pembentukan Ahlaq Mulia

Oleh : Astatik,S.Ag

Mepnews.id -  Rumah seringkali hanya dianggap sebagai tempat berkumpulnya keluarga, tempat berteduh di saat cuaca panas atau dingin, tempat yang aman dari bahaya yang mengancam. Sehingga anggota keluarga di dalamnya hanya melakukan aktivitas hidupnya standar saja. Makan bersama, nonton TV di ruang keluarga, ibadah yang kadang dilakukan bersama semisal sholat jamaah, kadang pula dilakukan sendiri-sendiri. Penyikapan kehidupan keluarga seperti ini berimbas pada pola hidup lainnya. Contohnya, anak-anak harus sekolah di luar rumah, anak-anak harus mengaji atau belajar ilmu agama di luar rumah pula. Adakalanya, bahkan anak perlu diikutkan bimbingan belajar karena alasan orang tua tak mampu mengikuti perkembangan dinamika pendidikan yang cukup pesat, atau alasan orang tua tidak memiliki banyak waktu untuk mendampingi anak-anaknya belajar dan ada pula, alasan mengikuti bimbingan belajar sebagai trend kekinian. Semakin banyaknya aktivitas anggota keluarga di luar rumah, maka semakin sedikit pula frekuensi anggota keluarga untuk bertemu.Baiklah,  tidak jadi masalah jika kita  berada di dalam kondisi tersebut, memang ada dampak baik dan buruknya, tinggal bagaimana kita  mengolah kehidupan keluarga agar lebih berkwalitas.

Dalam konteks kebutuhan terhadap pendidikan bagi anggota keluarga, sedikit paparan di atas bisa membantu kita membuat list kebutuhan dan kewajiban yang kita lakukan sebagai orang tua agar kehidupan keluarga seperti itu masih ada waktu untuk memasukkan pendidikan ahlaq bagi anggota keluarganya.

Di rumah sajalah orang tua sebagai penanggung jawab pendidikan ahlaq anak-anaknya yang bisa menjadikan rumah sebagai sekolah dan ruang sangat besar untuk mendidik anak-anaknya  sebagai pribadi yang terdidik dalam ahlaq mulia . Di sekolah, baik sekolah formal dan nonformal ahlaq masih sering disikapi sebagai mata pelajaran yang dipelajari saja, bukan materi pelajaran untuk diamalkan.Mereka menghafalkan ciri ciri ahlaqul karimah ( ahlaq baik) ahlaqul madzmumah ( ahlaq buruk). Mereka juga hafal hadist- hadist Nabi atau penggalan ayat suci tentang ahlaq mulia, lalu mereka ulangan dan ujian semester mendapatkan nilai bagus. Guru atau pendidikpun memberi nilai baik pada ulangan dan ujian tersebut dapat dipastikan diperoleh dari indikator keberhasilan belajar materinya, sedikit sekali menggunakan indikator keberhasilan dari pengamalan materi ahlaq. Bisa dimaklumi, karena instrumen penilaian sikap cukuplah kompleks dan guru memilki keterbatasan untuk melakukan hal itu,karena banyak item penilaian yang guru tidak mampu menyaksikannya. Misalnya, ahlaq membiasakan berdoa sebelum melakukan kegiatan,membiasakan berpamitan kepada orang tua saat melakukan kegiatan di luar rumah dan lain-lain .

Pendidikan ahlaq sebagai pendidikan yang mengatur rangkaian aktivitas hidup mencakup semua gerak aktivitas manusia, cara bergaul kepada manusia juga kepada Tuhan 'hablumminnaas wa hablumminallah' .
Maka dari itu, mengajarkan ahlaq kepada anggota keluarga itu tidak cukup hanya di sekolah, madrasah atau lembaga pendidikan dalam bentuk lain pula, tapi perlu dan lebih mudah diajarkan dan dibuat evaluasi untuk melihat indikator keberhasilannya pula jika  dilaksanakan di dalam rumah atau dalam institusi keluarga.

Kita simak aktivitas hidup kita yang tidak pernah lepas dari bimbingan ahlaq. Kita mulai dari bangun tidur. Disiplin bangun pagi untuk beribadah, baik sholat tahajud atau cukup sholat subuh saja. Kedua sholat tersebut  serta sholat wajib lainnya ada waktu yang telah ditentukan, "...innassholat kanat 'alal mu'mina ktabammauquta" (QS Annisa:103). Maka bila sholat belum waktunya atau lewat waktu tidak sah sholatnya. Ini salah satu pelajaran ahlaq akan kepatuhan kepada Tuhan, Allah SWT. Kwalitas keagamaan seseorang nampak bagaimana ia memperlakukan sholatnya, " Sholat itu tiang agama, barangsiapa menegakkan sholat ia ,menegakkan agama, barangsiapa yang meninggalkan sholat maka ia merobohkan agama" ( HR Bukhori Muslim).
Dalam sholat ini dianjurkan sangat agar dilakukan berjamaah.
Dalam kegiatan sholat yang durasinya tidak lama ini kita temukan lebih dari satu pelajaran ahlaq, ahlaq menghargai waktu, taat pada aturan dan disiplin.

Usai sholat subuh, ada kegiatan merapikan tempat tidur, membersihkan rumah, memasak dan lain lain. Rutinitas ini, walaupun dikatakan rutin tetap perlu diawasi pelaksanaannya, anak- anak tetap diajari untuk menata kembali tempat tidurnya, membiasakan mereka untuk bertanggung jawab terhadap kebutuhannya.Mereka juga diberi pembiasaan untuk ringan membantu orang tua, seperti menyapu halaman rumah,menyapu lantai dan pekerjaan-pekerjaan yang pantas dikerjakan oleh anak seusai umurnya. Pembiasaan ini tentunya keuntungannya bukan saja lingkungan rumah jadi bersih, tapi mereka akan terdidik untuk menyenangi kebersihan, jiwa suka membantu dan pribadi mandiri yang tidak selalu mengandalkan peran asisten rumah tangga. Anak-anak uang terdidik mandiri suatu saat akan survive di luar rumah, semisal mereka mondok atau hidup di perantauan untuk meningkatkan jenjang pendidikannya, tidak lagi cengeng. Bisa mencuci baju sendiri tanpa mengandalkan jasa laundry, bisa masak tidak harus beli nasi bungkus atau malah kongkow di warung .

Adapun aktivitas lainnya yang masih melibatkan pendidikan ahlaq adalah menghadirkan doa dalam tiap gerak hidup kita. Anak-anak kita bina untuk suka berdoa sebelum dan sesudah makaan, doa masuk dan keluar kamar mandi, doa berpakaian dan lain sebagainya. Sepele sebenarnya, namun ini jauh lebih baik daripada  ringan mengucapkan kata-kata kotor dan umpatan yang awalnya karena dalam lingkungan terdekatnya mereka sering mendengarkan hal itu.

Dalam melakukan komunikasi lisan, dalam keluarga, adakalanya menggunakan bahasa nasional ( bahasa Indonesia) ada pula yang menggunakan bahasa daerah mungkin juga bahasa asing. Dari komunikasi lisan ini, kita juga diatur oleh nilai nilai kesopanan. Penggunaan bahasa Indonesia saja, kepada yang lebih tua tidak pantas menggunakan kata "kamu, engkau" kepada orang yang lebih tua. Intonasi yang digunakanpun juga perlu disesuaikan. Apalagi penggunaan bahasa Jawa, ada tingkatannya, mulai tingkatan ngoko yang diperuntukkan kepada lawan bicara yang usianya  setara dan kromo inggil yang dipergunakan untuk berbicara kepada orang yang kita hormati karena usia dan karena status sosial (misalnya bawahan kepada atasannya, anak kepada orang tuanya, murid kepada gurunya ).

Dalam tradisi Jawa juga ada norma kesopanan yang berupa prilaku. Berjalan di depan orang tua dan orang-orang yang kita hormati dengan merendahkan badan kita, berjalan membungkuk atau bahkan ada pula yang melipat kakinya sehingga praktis lututlah sebagai tumpuan, bukan telapak kaki. Tindakan kesopanan lainnya adalah bersalaman "sungkem" mencium tangan orang yang kita hormati.

Dalam rumah, kita juga bisa menciptakan pembiasaan melayani kebaikan kepada sesama.
Anak-anak, kita ajari menata alas kaki ( Sandal) ketika kita melepasnya, saat masuk tempat ibadah atau peristiwa apapun itu. Kebiasan menata alas kaki ini adalah bagian dari ahlaq menghormati orang lain dan menyukai pola hidup yang rapi dan bersih. Sandal yang tertata rapi, tidak mungkin akan diinjak oleh orang yang baru saja datang , ia akan ikut pula menaruh sandal dengan rapi .

Pamitan,minta izin ketika melakukan kegiatan, adalah bagian dari ahlaq mulia pula. Dalam peribahasa Indonesia hal ini disebutkan sebagai " datang tampak muka,pergi tampak punggung".

Tentunya masih banyak daftar kebutuhan kita terhadap materi pembentukan ahlaq mulia pada diri kita dan anggota keluarga.

Paparan di atas, tentunya laboratoriumnya berada di dalam rumah.Perangkat materi ahlaq, sasaran dan proses evaluasinya semua dalam kehidupan keluarga.

Meskipun di dalam rumah kita tidak punya alat ukur baku serupa standar penilaian di institusi sekolah, institusi keluarga yang mendiami rumah ini lebih punya waktu banyak untuk memberikan pembiasaan untuk membentuk ahlaq mulia, melakukan pengawasan dalam pengamalannya dan mengevaluasi pengamalannya untuk diapresiasi atau diperbaiki lagi. Tanpa angka-angka yang tertulis di raport, institusi keluarga lebih mampu memberikan dukungan dalam meraih prestasi hidup dalam bentuk membentuk pribadi yang bisa menempatkan diri di tengah masyarakat. Tinggal bagaimana komitmen kita untuk ajeg mengawal pendidikan ahlaq dalam keluarga ini.
Jangan lupa, untuk bisa ajeg, kita butuhkan pula masukan informasi dan ilmu pengetahuan sebagai modal untuk memperkaya wawasan kita sehingga pesan baik yang kita sampaikan dalam keluarga dapat diterima dengan baik.

"Umi, Apa Sih Hamil di Luar Nikah Itu?"

mepnews.id - Saya pernah juga mengalami kondisi di mana untuk mendapatkan hiburan dari keletihan setelah aktivitas seharian, sebuah TV dengan stasiun TV yang banyak, namun karena TV tersebut kondisinya tidak begitu baik, maka kami  cuma bisa melihat satu dua stasiun TV.

Sebagaimana saya menerima materi parenting, saya juga menemani anak saya ketika menonton TV.

"Umi, apa sih hamil di luar nikah itu?" Saya melihat sejenak tayangan TV. "Astaghfiirullah!" Saya berteriak dalam hati.

Rupanya kala itu, saya begitu lengah dengan tayangan TV. Ya, saya menemani sulung saya dengan mengerjakan tugas lainnya. Saya benar-benar terkejut dia menanyakan hal itu.

" Hamil di luar nikah itu, perutnya ada adik e, tapi belum jadi pengantin. Itu tidak baik,Kak" jawab saya sejenak setelah saya bisa menguasai diri  dari keterkejutan.

"Tapi, itu kan kehendak Allah,Mi?" Saya dikejutkan lagi dengan pertanyaan yang sudah memasuki ranah aqidah ahlaq.

Dengan hati -hati saya menjawab " Iya,Kak. Allah memang menakdirkan hambaNya dengan takdir baik dan buruk.Karena itu, kita harus berdoa agar Allah memberi kita takdir yang baik." Ia terdiam.

Entahlah, saya belum bisa menerima suatu konsep parenting yang banyak mengatur kehidupan anak seperti meniadakan TV di dalam rumah, agar mereka tidak terkontaminasi tayangan TV yang tidak mendidik. Kalau di rumah tidak ada, anak -anak yang mempunyai kehidupan sosial di luar rumah, masih ada kemungkinan melihat TV dengan bebas, di rumah temannya, misalnya.
Kehidupan sosial mereka di luar rumah beraneka ragam, dan kita tidak bisa memantauanya tiap detik. Memberi bekal agar dia bisa memfilter informasi yang masuk kepadanya jauh lebih bermanfaat selain menjaga apa yang mereka saksikan.


 Didiklah Anak Kita Sesuai Jamannya

Oleh : Astatik, S.Ag

Mepnews.id - Pertanyaan 'hamil di luar nikah'  oleh sulung saya ini ( baca tulisan saya yang berjudul "Umi, Apa Sih Hamil di Luar Nikah Itu?") saya ceritakan kepada beberapa teman saya. Ada yang menyalahkan saya " Kok iso sih anak pean dibiarkan lihat tontonan seperti itu?" ( Kok bisa anak Anda dibiarkan melihat tontonan seperti itu?)
Ada pula yang kuatir anaknya akan tanya sejenis itu kepada mereka." Enggih Njenengan saget jawab ngaten, lha kulo gih bingung jawab e?" ( Iya, Anda bisa menjawab, kalau saya, ya bingung jawabnya).

Anak-anak kita bukanlah barang mewah yang mudah cara kita menjaganya, dimasukkan lemari brangkas sudah aman.Anak-anak kita itu adalah manusia yang memiliki akal pikiran, memiliki rasa dan karsa ( keinginan). Sebagai makhluk sosial, mereka juga butuh bersosialisasi dengan orang  lain, misalnya :teman sebayanya, teman bermainnya dan anggota masyarakat sebagai orang-orang yang berada dalam lingkungan sosialnya.

Satu keniscayaan, lingkungan sosial yang memiliki aneka ragam budaya, minat, dan kebiasan akan dijumpai  anak-anak kita. Cukupkah kita hanya menghilangkan keberadaan TV dalam rumah kita agar informasi negatif tidak masuk dalam referensi pengetahuannya? Bagaimana dengan suara lagu dangdut "Keong Racun" yang diputar keras oleh tetangga kita? Mungkinkah kita akan menyiapkan alat penutup telinga agar mereka tidak mendengarkan hal itu?

Kondisi sosial masyarakat yang beraneka ragam ini saya maknai sebagai sumber belajar bagi anak-anak saya. Saya akan apresiasi suatu peristiwa  baik secara terbuka di depan anak saya dan saya jelaskan dengan gaya bahasa dan tingkat pengetahuan mereka ketika mereka menjumpai atau menerima informasi yang tidak baik bagi perkembangannya.

Untuk bisa menjelaskan dengan penjelasan yang tepat dan baik maka kita butuh masukkan informasi dan ilmu pengetahuan, tidak sekali dua kali tapi tiap saat kita harus memperbarui pengetahuan kita,tidak saja tentang pendidikan untuk anak-anak kita, tapi semua ilmu pengetahuan kita berusaha untuk mengetahuinya.

Penguasaan orang tua tentang internet selain untuk mengecek aktivitas anak, juga sebagai alat  untuk mencari  informasi dan ilmu pengetahuan.
Mengikuti seminar pendidikan,membaca dan berpikir tentang peristiwa di lingkungan kita sebagai  referensi kita untuk berpikir obyektif dalam menghadapi perkembangan nalar dan pergaulan sosial anak-anak kita.

Yang tak kalah penting adalah kita perlu ingat peribahasa "Buah   jatuh tak jauh dari pohon" bahwa anak-anak kita adalah gambaran diri kita. Marilah bersiap untuk melihat gambaran kita pada anak kita dengan berprilaku baik.

Jika semua upaya telah kita lakukan,jangan lupa untuk meminta penjagaan keselamatan dunia akhirat anak-anak kita dari Dzat Maha Mengetahui, Maha Kuasa atas segala hal.
Semoga kita menjadi golongan orang tua yang hebat dan beruntung, dikaruniai anak-anak yang bisa mengendalikan zaman dan peradabannya.Aamiin.

Kamis, 05 Januari 2017

Gaya Piknik Wanita Karir

3 Macam Gaya Piknik Perempuan Sibuk di Ruang Publik

mepnews.id  Wanita karier, mungkin sebutan singkatnya begitu bagi perempuan yang memilki aktivitas padat di ruang publik.
Wanita karir dapat dipastikan memiliki pertimbangan baik dalam kerjanya temasuk membuat pilihan-pilihan aktivitas untuk mengurai kejenuhan dan keletihan tugas publiknya alias gaya pikniknya.

Pilihan piknik bagi mereka tentunya didasari pada hasil yang membawa manfaat bagi diri dan lingkungannya, tidak sekedar piknik asal ' happy'.
Berikut ini tawaran piknik  bijak dan membuat hati lega dan pikiran bisa segar kembali.

1. Sebagai perempuan yang menyukai keindahan  meskipun sibuk bekerja, wanita karier memenuhi kebutuhan pikniknya bisa dengan merawat bunga-bunga di halaman atau di kebun rumahnya, kesempatan memberi hari libur bagi tukang kebun jugakan? Bagi wanita karier, menciptakan lingkungan yang  indah atas jerih payahnya sendiri adalah kepuasan batin yang tak kalah pentingnya dengan deadline tugas kantornya.

2. Kembali ke dapur.  Suatu hari istri seorang pejabat di Surabaya mengeluh kepadanya karena sibuk berkerja, lalu ia menyuruh istrinya tesebut untuk pergi ke dapur, memasak. Selain memasak, banyak yang dikerjakan di sana, bisa mencuci alat memasak dan alat makan, dan membersihkan dapur. Dijamin pikiran fresh kembali karena wanita karir  pasti menyukai lingkungan bersih dan tertata rapi, apalagi  di rumahnya sendiri.

3. Membersihkan, merapikan dan menata kembali rumahnya. Aktivitas ini bisa berupa menyapu rumah, ngepel lantai, mencuci baju anggota keluarganya dan lain-lain. Wanita karir adalah perempuan yang suka melihat semua pekerjaaan beres pada waktunya; tidak terbiasa menunda pekerjaan .

Bercengkrama dengan suami dan anak-anak boleh pula disebut piknik, namun ketiga tawaran di atas adalah pilihan bijak berpiknik yang lebih mengarah pada hasil yang berkwalitas ketimbang pergi ke tempat wisata dengan meninggalkan rumah selalu diurus asisten rumah tangga atau bahkan tidak terurus sama sekali. Bisa jadi fresh saat di resort namun pulang akan suntuk lagi melihat rumah dan perabotannya berantakan dan kotor.

Tentu saja, ketiga tawaran tersebut tidak selalu harus dilaksanakan bersama -sama. Sekali lagi, perempuan harus menggunakan kecerdasannya untuk memutuskan  kegiatan apa yang mampu ia lakukan agar pikirannya fresh kembali dan menghasilkan suatu yang bermanfaat untuk lingkungannya.
Wanita karir yang sukses adalah perempuan cerdas yang mengabdikan dirinya untuk kebermanfaatan sebanyak banyaknya kehidupan,temasuk saat ia memilih bentuk pikniknya.

Ada ungkapan Jawa yang mengatakan " sakduwur duwur e pendidikan e wong wadon, mlayune tetap nang pawon"
( Bagaimanapun tingginya pendidikan perempuan, akan kembali juga ke dapur).
Tidak bermaksud melakuan penggembosan terhadap perjuangan feminisme, memang sepertinya ada naluri bahwa mengurusi ruang domestik bagi perempuan  itu membuat hati menjadi tenang dan senang. Saya sudah membuktikan. Silahkan Anda mencobanya.

Oleh Astatik Bestari
Menemukan Kehebatan Seseorang dari Pengorbanannya

mepnews.id   Buku ini saya peroleh gratis dari pertemuan kegiatan komunitas Ojo Leren Dadi Wong Becik  Senajan Mung Sakdetik, 29 Desember 2016 lalu di Sekolah Garasi Turen Malang  Jawa Timur.

Lagi-lagi saya kagum dengan komunitas ini. Selain penyelenggaraannya yang cukup menggunakan publikasi melalui sosial media dan mendapat respon baik dari daerah di Jawa Timur seperti Bojonegoro Pasuruan, Madura,  Jombang, Madiun, Nganjuk, Situbondo ada pula dari Jakarta ( dari Pelangi Cyber School) untuk hadir di acara ini, yang pasti  banyak pengorbanan dilakukan orang-orang yang terlibat dalam acara ini.

Mereka datang dalam pertemuan yang diselenggarakan komunitas ini atas inisiatif dan biaya sendiri tentunya, tidak ada SPPD untuk pengajuan uang transport atau didanai oleh orang ketiga, sebagaimana yang biasa diperoleh saat mereka mengikuti kegiatan workshop, seminar atau pertemuan ilmiah lainnya.

Tuan rumah acara inipun menjamu para pegiat pendidikan yang hadir di dalamnya ketika saya tanyai berapa kontribusi yang dibayar untuk ikut acara ini tidak menjawab, dan sampai acara ini selesai tidak ada pengumuman jumlah cost yang dikeluarkan untuk pertemuan komunitas tersebut.

Saya menilai komunitas ini semakin hebat ketika Pak Nafik membagikan seratusan buku karyanya secara gratis ( buku- buku best seller) untuk para hadirin yang terlibat pertemuan komunitas ini. Pembagian buku ini juga diikuti oleh salah satu hadirin, Bu Sakti namanya, seorang pengelola PAUD sukses yang ingin bertukar  buku karyanya tentang sejarah berdirinya PAUD yang ia kelola kepada Pak Nafik dan beliau juga memohon kepada Pak Totok Isnanto untuk memberi kata pengantar pada buku karya keduanya kelak.

Well, inikah orang-orang hebat itu? Mereka berjuang sungguh - sungguh untuk kehidupan yang lebih baik khususnya yang concern di dunia pendidikan.Datang ke pertemuan komunitas  tanpa merasa terbebani pengorbanan waktu, tenaga dan biaya. Tuan rumah kegiatan inipun ringan berbagi informasi jauh-jauh hari agar bisa mengikuti pertemuan ini, menjamu para hadirin dengan semangat ikhlas saat kegiatan berlangsung. Para  pemilik karya pun ringan berbagi hasil karyanya yang berisi sekumpulan ilmu pengetahuan berupa buku.

Ingin terlibat dalam komunitas ini? Tahun depan refleksi pendidikan nonformal oleh komunitas ini direncanakan  bertempat di Pasuruan.
"Komunitas ini tidak berpintu, siapapun boleh masuk. Terlibat dalam komunitas ini wajib menanggalkan tanda pangkat, kedudukan, gelar dan lain lain, karena orang-orang di dalamnya merekat tanpa sekat dan tanpa perekat. Tidak ada aku, kamu, mereka , yang ada hanya kita". Begitu kata Pak Kentar salah satu inisiator terbentuknya komunitas ini.

Selasa, 03 Januari 2017

Orang Orang Hebat

Menemukan Kehebatan Seseorang dari Pengorbanannya

mepnews.id   Buku ini saya peroleh gratis dari pertemuan kegiatan komunitas Ojo Leren Dadi Wong Becik  Senajan Mung Sakdetik, 29 Desember 2016 lalu di Sekolah Garasi Turen Malang  Jawa Timur.

Lagi-lagi saya kagum dengan komunitas ini. Selain penyelenggaraannya yang cukup menggunakan publikasi melalui sosial media dan mendapat respon baik dari daerah di Jawa Timur seperti Bojonegoro Pasuruan, Madura,  Jombang, Madiun, Nganjuk, Situbondo ada pula dari Jakarta ( dari Pelangi Cyber School) untuk hadir di acara ini, yang pasti  banyak pengorbanan dilakukan orang-orang yang terlibat dalam acara ini.

Mereka datang dalam pertemuan yang diselenggarakan komunitas ini atas inisiatif dan biaya sendiri tentunya, tidak ada SPPD untuk pengajuan uang transport atau didanai oleh orang ketiga, sebagaimana yang biasa diperoleh saat mereka mengikuti kegiatan workshop, seminar atau pertemuan ilmiah lainnya.

Tuan rumah acara inipun menjamu para pegiat pendidikan yang hadir di dalamnya ketika saya tanyai berapa kontribusi yang dibayar untuk ikut acara ini tidak menjawab, dan sampai acara ini selesai tidak ada pengumuman jumlah cost yang dikeluarkan untuk pertemuan komunitas tersebut.

Saya menilai komunitas ini semakin hebat ketika Pak Nafik membagikan seratusan buku karyanya secara gratis ( buku- buku best seller) untuk para hadirin yang terlibat pertemuan komunitas ini. Pembagian buku ini juga diikuti oleh salah satu hadirin, Bu Sakti namanya, seorang pengelola PAUD sukses yang ingin bertukar  buku karyanya tentang sejarah berdirinya PAUD yang ia kelola kepada Pak Nafik dan beliau juga memohon kepada Pak Totok Isnanto untuk memberi kata pengantar pada buku karya keduanya kelak.

Well, inikah orang-orang hebat itu? Mereka berjuang sungguh - sungguh untuk kehidupan yang lebih baik khususnya yang concern di dunia pendidikan.Datang ke pertemuan komunitas  tanpa merasa terbebani pengorbanan waktu, tenaga dan biaya. Tuan rumah kegiatan inipun ringan berbagi informasi jauh-jauh hari agar bisa mengikuti pertemuan ini, menjamu para hadirin dengan semangat ikhlas saat kegiatan berlangsung. Para  pemilik karya pun ringan berbagi hasil karyanya yang berisi sekumpulan ilmu pengetahuan berupa buku.

Ingin terlibat dalam komunitas ini? Tahun depan refleksi pendidikan nonformal oleh komunitas ini direncanakan  bertempat di Pasuruan.
"Komunitas ini tidak berpintu, siapapun boleh masuk. Terlibat dalam komunitas ini wajib menanggalkan tanda pangkat, kedudukan, gelar dan lain lain, karena orang-orang di dalamnya merekat tanpa sekat dan tanpa perekat. Tidak ada aku, kamu, mereka , yang ada hanya kita". Begitu kata Pak Kentar salah satu inisiator terbentuknya komunitas ini.

Selasa, 20 Desember 2016

Ayahku Hebat! Hadir di Rapat Wali Murid Sekolah Saya

"Ayah, Terimakasih Telah Hadir dalam Rapat Wali Murid Sekolah Saya "

Beberapa hari setelah kegiatan rapat wali murid untuk mengambil raport semester ganjil atau kegiatan parenting PAUD, saya melihat beberapa postingan orang-orang hebat dalam status, foto dan komentar di beranda facebook saya.
"Kyai ayah yang hebat"  Saya berkomentar pada foto seorang tokoh masyarakat dan tokoh agama.
"Alhamdulillah, diberi kesempatan Allah untuk menghadiri ini,Ning Guru" begitu komentar baliknya pada postingan fotonya beliau dalam ruang rapat...

"Ibunya hamil tua, kelas anak saya di lantai 2, terpaksa saya yang ambil raport.." Ini salah satu komentar orang hebat berikutnya, ketika saya juga berkomentar apresiatif atas kehadiran beliau di sekolah putra/putrinya.
"Sepanjang yang saya terima dari salah satu pertemuan orang tua, katanya anak yang dekat dengan ayah lebih cerdas.Rosiana Silalahi ( Host salah satu stasiun TV swasta negara kita) mengatakan pula bahwa 'pria nampak seksi dengan ikut andil dalam ngurusi anak-anaknya" komentar balik saya pada beliau yang istrinya sedang hamil tua.

"Wkwkwk... Ibunya mengajar, terpaksa saya yang datang".
Komentar balik atas apresiasi saya berikutnya, pada postingan milik seorang ayah yang menghadiri kegiatan parenting PAUD sekolah putranya.
"What? Kok terpaksa?" Saya balik berkomentar...

Ayah-ayah yang hebat, saya jadi ingat ayah saya juga. Sejak saya TK sampai SMP kelas dua, beliau yang mengambilkan raport saya, beliau juga yang selalu berkomunikasi dengan guru-guru saya di luar rapat wali murid.Pada tahun-tahun berikutnya, ibu yang hadir pada rapat wali murid karena ayah sakit stroke.
Senangnya saya sepulang dari rapat wali murid, ada saja yang diceritakan ayah. "Astatik itu anak tunggal ya,Pak?" Suatu kali Ayah mulai bercerita sapulang rapat wali murid.
"Meskipun demikian,jangan dimanja ya,Pak".   Ayah saya mengulangi peringatan bersahabat guru saya. Saya merasa ada informasi baru tentang diri saya ini, sehingga saya menyesuaikan diri sesuai pola pikir saya waktu itu. "Oh, berarti manja itu tidak baik" Benak saya menyimpulkan bagitu...

Ayah saya mungkin sama dengan ayah orang lain. Kadang-kadang saya sebal juga dengan aktivitas partai dan organisasinya.
 "Mesti abah iki, balak balik rapat". Suatu malam, saya membukakan pintu rumah untuk beliau yang baru datang dari rapat NU.
O, ya saya memanggil ayah saya 'abah', dan kini panggilan serupa saya tiru untuk anak-anak saya. Kala itu, ayah diam saja mendengar ungkapan kejengkelan saya. Begitulah, meskipun saya masih kecil, apa yang saya ungkapkan pasti menjadi pertimbangan beliau juga ibu saya dalam mendidik saya...

Ayah - ayah yang  hebat,
Jangan-jangan putra dan putri Ayah juga demikan saat Ayah mengambil raport mereka . Mereka merasa senang, mereka jadi jengkel ketika Ayah  sangat sibuk dengan aktivitas Ayah di luar rumah.

Ayah dan Bunda, luangkan waktu untuk hadir dia acara anak-anak kita, dari sanalah kita akan mengetahui seberapa hebatnya anak-anak kita  di mata gurunya dan warga sekolah lainnya.

20Desember 2016

Sabtu, 17 Desember 2016

Ketika Si Kecil Membuat Generalisasi

Anak, Selain Peniru yang Ulung juga Pembuat Generalisasi yang Hebat

Rupanya kepagian kami mengunjungi pusat perbelanjaan di daerah kami.
"Wong belum buka, kok sudah banyak yang parkir ya, Dik?" Tanya saya asal saja kepada juru parkir di situ, melihat pelataran parkir banyak kendaraan.
"Oh, itu motornya bapak bapak yang selingkuh". Jawabnya malu-malu.Kami terdiam. Saya mengangguk saja.
"Banyak ya, yang selingkuh di sini". Tiba-tiba Sulung saya yang saat itu kelas 2 MI nyeletuk mengetahui kendaraan yang berdatangan untuk parkir bartambah banyak.
Abinya refleks ,"Omy, tidak baik ngomong begitu".
Sulung saya diam sejenak seolah bingung tiba-tiba abinya berkata dengan nada tinggi.
"Kakak, 'selingkuh' itu abinya atau uminya tidak saling menyayangi. Bisa abinya yang tidak sayang, atau uminya yang tidak sayang. Orang- orang yang sepeda motornya  diparkir itu tidak semuanya begitu.". Saya menjelaskan dengan hati-hati. Dia diam, mungkin berpikir atau apalah. Sejak saat ia tidak ada lagi bahas selingkuh, mungkin ia sudah paham dengan pemahamannya sendiri tentunya.

Begitu juga saat ia masih TK. Teman-temannya main ke rumah.
"Kan ada jajan di toples yang disiapkan umi di meja,Kak". Saya agak terkejut  dan  merasa kehilangan setoples jajan hari raya untuk persediaan tamu.Terlebih kondisi ekonomi kami belum stabil waktu itu, benar-benar kehilangan rasanya.
"Jajan di meja sudah melempem,katanya bu guru, memberi ke orang lain dengan yang baik-baik, ya kakak ambil jajan yang disimpan di lemari..."
Ah.. tidak jadi marah akhirnya, walau ada yang hilang, tapi apologi lugunya itu sungguh mengingatkan saya tentang berbuat baik yang tulus.

 Tidak jauh berbeda dengan kakaknya, adiknya juga demikan. Sore tadi ia mengingatkan saya agar dibelikan sepeda berdinamo, tenaga penggerkanya dengan listrik jika ia rangking 1.
"Ya tidak cuma rangking 1, Adik juga mau dikhitan kelas 4 nanti". Saya merespon singkat.
"Umi pernah ngomong kalau umi selalu mengikuti aturan yang dibuat abi, itu tadi abi bilang kalau adik rangking 1 akan dibelikan sepeda 'ces-cesan'... "Waduh, mungkin abi sangat senang saat mengetahui bungsu kami peringkat kelasnya meningkat dari peringkat 12 pada kelas 2 yang lalu, siang tadi raportnya menginformasikan ia dapat ranking 9.
Beliau memberi apresiasi sekaligus memotivasinya untuk terus dapat meningkatkan prestasi sekolahnya, dan saya belum tau itu.
"Baiklah, doakan rezeki kita bertambah barokah,agar umi dan abi bisa membelikan adik sepeda ces-cesan ..."
Saya menyerah, alasannya tidak patut untuk disanggah lagi. Saya mati kutu dengan  pola pikirnya yang menggeneralisasikan ketetapan saya sendiri 'umi mengikuti aturan apapun yang dibuat abi'.
17 Desember 2016