Rabu, 11 Januari 2012

Memagari Kenyamanan Hidup dengan Rasa Malu

Kalau membahas topic malu ini saya jadi teringat perbincangan Bapak Karni Ilyas dengan ketua MK, Bapak Mahfudz MD beberapa waktu yang lalu di salah satu acara yang disiarkan TV One pada Desember 2011. Saya lupa tanggal berapa, cuma yang saya ingat pada waktu itu  disiarkan malam hari, dan di pojok kiri bawah di layar TV saya terbaca “Jakarta Lawyers club”. Tidak banyak yang saya ikuti dari perbincangan itu, satu topic pembicaraan yang saya kenang “apa yang saya lalui saat ini adalah cita-cita saya dulu” kurang lebih begitu ungkapan Pak Mahfudz menceritakan perjalanan hidupnya di talkshow itu. Lebih tercengang lagi ketika beliau mengungkapkan “ saya merasa semua yang saya inginkan ini  tercapai, dan saya merasa malu kepada Allah SWT untuk meminta lagi ( saya pahami berdo’a untuk memperoleh harapan & cita-cita nya)”. Begitu ungkapannya, meskipun saya tidak bisa mencuplik langsung ungkapannya karena ada kata ‘malu kepada Allah’ itu yang membuat saya jadi terfokus pada kepribadiannya.”saya  jalani saja yang saat ini saya peroleh”.Tambahnya lagi.
Ungkapan serupa juga pernah saya dengar dari  almarhum abah saya. Ketika saya masih duduk di sekolah dasar, saya sering meminta dido’akan oleh orang tua saya, umi dan abah. Pernah suatu hari saya begitu mendesak kepada abah saya agar lebih intens dalam mendo’akan saya, “Nak, abah isin nang Gusti Allah, bolak-balik njaluk” begitu ungkapan bahasa Jawanya.
Dari beliau-beliau itu saya melakukan up grade pemahaman  saya sendiri, ungkapan rasa malu itu tidak hanya diterapkan pada relasi pergaulan dengan sesama, tapi juga kepada Allah SWT, dan mengapa  bisa muncul rasa malu kepada Allah, tentunya kadar pemahaman & internalisasi pola kedekatan dengan-Nya.Memang, tentang rasa malu ini dalam beberapa hadits Nabi Muhammad SAW banyak dijelaskan diantaranya adalah …Sesungguhnya rasa malu itu termasuk dari keimanan” (Muttafaqun’alaih).
 Lalu apa sebenarnya“malu”itu? Dan seberapa pentingkah diperlukan dalam menemani aktivitas hidup kita? Menurut Kamus Bahasa Indonesia (www.KamusBahasaIndonesia.org) malu artinya (1)merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah dan sebagainya)karena berbuat sesuatu yang kurang baik,kurang benar karena berbeda dengan kebisaaan, mempunyai cacat atau kekurangan dan sebagainya);(2) segan melakukan sesuatu karena rasa hormat, agak takut dan sebagainya;(3) kurang senang, rendah, hina dan sebagainya. Kalau sudah mengetahui definisinya,  dalam pemahaman saya banyak hal atau mungkin setiap prilaku wajiblah memiliki key word “malu” sebelum betul-betul melaksankan atau tidak apa yang menjadi rencana kita. Agaknya, tidak mengandung kerugian kalau malu ini kita jadikan key word aktivitas kita sehari-hari. Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan : “ Sifat malu itu, baik seluruh akibatnya “atau “malu itu semua baik akibatnya”.(HR.Muslim).Maka pantaslah kalau kita memperbanyak rasa malu, terutama kepada Allah SWT.
Saya pernah membaca salah satu terjemahan kitab kajian keagamaan {Tanbighul Ghafilin( jilid 2), artinya Peringatan bagi Orang-orang Lupa} mengemukakan pendapat salah seorang salaf yang berkata kepada anaknya:”Apabila nafsumu mengajak kamu untuk melakukan dosa maka lihatlah ke atas dan malulah kepda penghuni langit. Apabila tidak,maka lihatlah ke bawah dan malulah kepada penghuni bumi. Apabila kamu tidak merasa malu kepada penghuni langit dan penghuni bumi, maka anggaplah dirimu termasuk binatang yang tidak mempunyai rasa malu”.
Marilah kita mengingat peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung di lingkungan kita, ada hal- hal baik dan buruk, baik itu perkataan maupun perbuatan. Agaknya suatu perkataan atau perbuatan itu benar menurut pendapat umum belum tentu bisa dilaksanakan dan diungkapkan karena ada ukuran malu di dalamnya. Seseorang yang ingin mengingatkan seorang tokoh masyarakat tentang kebijakannya yang tidak popular terkadang tidak jadi disampaikan karena ada rasa malu tersebut( (baca definisi malu no 2)
Adakalanya berbagai kejahatan di masyarakat bisa terjadi karena para pelakunya tidak mempertimbangkan  rasa malu .Korupsi terjadi di instansi-instansi pemerintahan dan swasta karena pelakunya mengesampingkan rasa malu. Malu mengambil uang yang bukan haknya, baik malu kepada diri sendiri, orang lain terlebih kepada Tuhan Yang Maha Tahu. Semestinya, ada pertimbangan-pertimbangan akal sehat sehingga mendorong munculnya rasa malu ini. Akal sehat siapapun pasti mengakui bahwa mengambil bukan miliknya adalah perbuatan tercela dan menimbulkan dosa, dan itu pastilah perbuatan –perbuatan yang mengandung rasa malu jika dilakukan.
Ada pula yang masih hangat dibicarakan di media masa; tentang pelecehan seksual di kendaraan umum. Lagi-lagi, malu-lah yang ikut serta meminimalisir ini, bukan peraturan pemerintah, sampai ada kebijakan tempat antrean khusus perempuan hingga rencana armada khusus perempuan. Cobalah kita perhatikan, saya sendiri tidak melakukan penelitian ini, namun saya juga mengamini beberapa pendapat yang mengatakan tentang pengadaan armada  khusus ini. Bagaimana tidak menimbulkan ketidaknyamanan apabila seorang   perempuan  bepergian dengan suami atau anak laki-lakinya, karena adanya armada khusus ini tentunya mereka akan berpisah, padahal boleh jadi suami atau anak laki-laki itu sebagai pendampingnya dalam perjalanan. Menyendirikan armada seperti ini agaknya akan merepotkan para pemakai jasa ini, khususnya pada penumpang seperti yang tersebut tadi. Akan afdhol menurut saya, bila ada iklan layanan masyarakat yang mengajak masyarakat untuk malu melakukan tindakan tercela dalam hal ini pelecehan seksual di kendaraan umum.
Kalau saat ini yang sudah terjadi, para pelaku pelecehan adalah penumpang laki-laki kepada penumpang perempuan, selayaknyalah, para laki-laki bisa mengutamakan rasa malu ketimbang menuruti kemauan biologis yang notabene masuk ranah amoral ini. Tentunya akan banyak pertimbangan malu ini, malu kepada Tuhan Yang Maha Tahu, malu kepada perempuan yang dilecehkan, malu kepada penegak hukum, terlebih lagi kalau sudah dipublikassikan di media masa.
Sebagai perempuan, saya juga berusaha untuk bersikap obyektif, dengan tidak  hanya menilai kesalahan di pihak laki-laki saja, bisa jadi  ada hal-hal pada diri perempuan yang berpotensi  penyebab pelecehan seksual. Dengan tetap menghormati hak azasi perempuan, saya katakan, mungkin gaya berpakaian dan tingkah laku perempuan, seorang laki-laki yang sudah punya mind set buruk menjadi terdorong melakukan itu, dan agaknya tidak mungkin bagi laki-laki yang punya mind set positif terhadap perempuan dengan gaya busana dan tingkah laku apapun bisa melakukan itu.
Saya kira, cukup nyaman manakala perempuan bisa menunjukkan sifat-sifat keindahannya dengan busana yang wajar dipakai di tengah masyarakat umum, layaknya ketika perempuan yang senang mengenakan perhiasan mahal, berkenaan mengurangi perhiasannya, ketika berada ditempat umum, tentunya, demi kenyamanan dan keamanan dirinya. Akan terasa arif manakala para perempaun merasa malu, ketika pakaian dan prilakunya, berbeda dengan sekelilingnya, atau berbeda dengan adat yang berlaku secara umum (baca definisi malu no 1 dari tulisan ini).
Begitu pula, yang terjadi di dunia kerja, ketika melaksanakan tugas kerja, baguslah mengenakan pola pikir malu ketika mengurangi jam kerjanya alias korupsi waktu. Dengan demikian, pelayanan kepada masyarakat berdampak pada pelayanan yang amanah dan jujur. Karena dapat melaksanakan tugas dengan cukup waktu, tidak tergesa-gesa saat melaksankan tugas karena tidak korupsi waktu.
Nah, ha-hal yang saya bahas tersebut masih pada ranah yang dilakukan oleh aktivitas tubuh, apakah aktivitas wicara juga perlu menggunkan key word ‘malu’ ketika produk bicara itu belum sampai terlontar dari rongga mulut atau tertulis oleh tangan-tangan kita melalui produk tulis? Tentu jawababnya”ya”. Marilah kita rasakan ketika ada orang lain berbicara dengan pemilihan kata yang santun dan terungkap secara santun pula, kita pasti merasa dihargai, dihormati, kitapun menilai orang tersebut dengan penilaian positif dan baik pula. Sebaliknya, ketika kita mendengar muatan bicara orang lain yang tidak senonoh, diungkapkan secara kasar pula, tentu kita akan risih mendengarnya. Pada keadaan demikian inilah, sepatutnya bagi seseorang yang mengunngkapkan kata-kata yang tidak patut, atau tidak pantas dapat  menimbang-nimbang dengan perasaan malu (lihat definisi malu no 1). Demikian juga ketika mengungkapkan isi pikiran dan hati kita dengan bahasa tulis, terasa enak dibaca dan diterima dengan pikiran positif oleh pembaca, jika kita menuangkan pikiran kita dengan bahasa yang santun dan  ekspresi tulis yang diterima dengan pemahaman beradab.
Agaknya,  sekali lagi saya ungkapkan, tidak ada cela langkah hidup kita yang terbebas dari rasa malu, terutama malu kepada Dzat Yang maha Tahu. Penempatan rasa malu tentulah diukur dengan rasa dan etika kepatutan, norma susila tepatnya. Sedangkan malu kepda Dzat Yang Maha Tahu diperlukan komunikasi yang intens dengan-NYa  ditandai dengan bertaqwa kepadaNya (menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya) baik itu terwujud melalui ibadah social maupun ibadah ritual.