Rabu, 11 Januari 2012

Pendidikan Karakter Membangun Peradaban yang Lebih Santun



Kepala Dinas Pendidikan  Propinsi Jawa Timur dalam kata pengantar “Modul Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Atas” yang diterbitkan oleh BIdang Pendidikan Non Formal Informal dan nilai Budaya Dinas Pendidikan  Propinsi Jawa Timur 2010 menyatakan bahwa Pendidkan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik  agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklaq mulai, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Lebih lanjut beliau menyatakan  bahwa agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai denga baik,  Dinas Pendidikan  Propinsi JAwa Timur mengembangkan pendidikan karakter yang diharapkan dapat diimplementasikan di sekolah. Melalui pendidikan karakter peserta didik diharapkan mampu meningkatkan  dan menggunakan pengetahuannya,mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam prilaku sehari-hari. 
Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena  social yang berkembang, ditandai dengan meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, perkelahian massal dan kasus dekadensi moral lainnya.
A.       Pengertian  Pendidikan karakter
Dalam modul tersebut memberi definisi pendidikan karakter sebagai berikut: “ suatu system penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut  (The deliberate use of all dimensions of school life to faster optimal character development).
B.       Tujuan
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan ahlak mulai peserta didik secara utuh, terpadu,  dan seimbang sesuai demgam standar kompetensi lulusan. Melalui pendidika n karakter diharapkan peserta didik  dan  yang sederajat mampu secara mandiri meningkatkan  dan menggunakan pengetahuannya mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam prilaku sehari-hari. 


C.        Sasaran
Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh sekolah di Indonesia negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini.
Melalui program ini diharapkan lulusannya memilki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkarakter mulai, kompetensi akdemik yang utuh dan terpadu, sekaligus memilki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidika karakter nantinya menjadi budaya sekolah.
D.       Dasar Hukum
Dasar hokum dalam pembinaan pendidikan karakter antara lain sebagai berikut
1.        UUD 1945 Amandemen
2.        UU No. 20 Tahun 2003 tentang System Pendidikan Nasional
3.        PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan
4.        Permendiknas No 39 Tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan
5.        Permendiknas No 22 Tahun  20086 Tentang Standar Isi
6.        Permendiknas No 22 Tahun  20086 Tentang Standar Kompetensi Lulusan
7.        Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional 2010-2014
8.        Renstra Kemendiknas Tahun 2010-2014
9.        Renstra Direktorat Pembinaan SMA Tahun 2010-2014

E.        Konsep Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolute) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden  rule. Menurut  para psikolog, beberapa nilai dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaan-Nya (alam dan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih saying, peduli dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpian, baik dan rendah ahti, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan.
Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan social kultur pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi social kultur ( dalam keluarga, sekolah, dan masyrakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter alam konteks totalitas proses psikologis dan social kultur tersebut dapat dikelompokkan dalam: olah hati ( spiritual and emotional development), olah piker                  ( intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and kinesthetic development), dan olah rasa dan karsa             ( affective and creativity development) .
F.        NIlai- Nilai Karakter
Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma social, peraturan-peraturan/  hokum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi nilai-nilai utama, yaitu nilai-nilai  prilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan  Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, dan lingkungan serta kebangsaan. Berikut ini deskripsinya
1.                    Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan
Religius: pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya
2.  Nilai Karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri
Jujur; Bertanggungjawab; Bergaya hidup sehat; disiplin; kerja keras; Percaya diri; berjiwa wirausaha; berpikir logis,kritis, kreatif dan inovatif;mandiri;ingin tahu; cinta ilmu
3.                    Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama
Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain; patuh pada aturan social;menghargai karya dan prestasi orang lain; santun; demokratis
4.  Nilai karakter dalm hubungannya dengan lingkungan
Peduli social dan lingkungan
5.                    Nilai kebangsaan
Nasionalis, menghargai keberagaman
G.       Tahapan Pengembangan Karakter
Karakter dikembangkan melalui tahapan (knowing), pelaksanaan (acting) dan kebiasaan ( habit). Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memilki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak  sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau  wilayah emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (component of good character) yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling atau perasan (pengutan emosi) tentang moral, dan moral action ( perbuatan moral). Hal ini diperlukan agar  peserta didik dan atau warga sekolah lain yang terlibat dalam system pendidikan terseut sekaligus dapat memahami, merasakan, menghayati, dan mengamalkan (mengerjakan ) nilai –nilai kebajikan (moral)
Dimensi-dimensi yang termasuk moral knowing yang akan mengisi ranah kognitif adalah kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut pandang (prespective taking), logika moral (moral reasoning), keberanian mengambil sikap ( decision making), dan penegenalan diri (self knowledge). Moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati diri (conscience), percaya diri( self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control)kerendahan hati (humility). Moral action merupakan tindakan moral yang merupakan hasil (outcome) dari komponen dua karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang  dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit)
H.       Prinsip-prinsip pendidikan karakter
Pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut.
1.        Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter
2.        Mengidentifikasi karkter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan prilaku.
3.        Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter
4.        Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki keprdulian
5.        Memberi kesempatan kepada peserta didik  untuk menunujukkan prilaku yang baik
6.        Memilki cakupan  terhadap kurikulum  yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses
7.        Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri  pada para pesrta didik
8.        Mengfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama
9.        Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter
10.     Mengfungsikan keluarga dan anggota masyarakat  sebagai mitra dalam usaha membangun karakter
11.     Mengevaluasi karakter sekolah fungsi  staf sekolah sebagai guru-guru karakter,  dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik
Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah  dilakukan secara terpadu melaluio tiga jalur, yaitu:pendididkan karakter secara terpadu melalui pembelajaran, pendidikan karakter secara terpadu melalui manajemen sekolah, dan pendidikan karakter secara terpadu melalui ekstra kurikuler  .berikut ini secara singkat penejelasan dari ketiga jalur penyelenggaraan pendidikan karakter tersebut.
1.        Pendidikan karakter secara terpadu melalui pembelajaran.
Yang dimaksud dengan pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasi nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan pesrta didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai dan menjadikannya prilaku.
2.          Pendidikan karakter secara terpadu melalui manajemen sekolah
Beberapa contoh bentuk kegiatan pendidikan karakter yang terpadu dengan manajemen sekolah antar lain:
Ø  Pelanggaran tata tertib yang berimplikasi pada pengurangan nilai dan hukuman/pembinaan
Ø  Penyediaan tempat-tempat pembuangan sampah
Ø  Penyelenggaraan kantin kejujuran
Ø  Penyediaan kotak saran
Ø  Penyedian sarana ibadah dan pelaksanaan ibadah misalnya sholat ashar /dhuhur berjama’ah
Ø  Salim-taklim (jabata tangan) setiap peserta didik bertemu para warga sekolah
3.        pendidikan karakter secara terpadu melalui ekstra kurikuler 
Fungsi kegiatan ekstra kurikuler meliputi:
Ø  Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan  kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan  potensi, bakat dan minat mereka
Ø  Social, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan  kemampuan dan rasa tanggung jawab social peserta didik
Ø  Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan  suasana rileks, menggembirakan dan menyenangkan bagi peserta  didik yang menunjang proses perkembangan
Ø  Persiapan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan  kesipan karier peserta didik
Itulah sekilas tentang pendidikan karakter yang  diharapkan menjadi instrument dalam   meningkatkan  dan menggunakan pengetahuan,mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam prilaku sehari-hari.