Sabtu, 27 Oktober 2012

Di Balik Kelucuan Film Kartun


Sebagaimana kita ketahui  bahwa saat ini anak-anak kita  sudah menonton banyak tayangan TV dari banyak stasiun TV pula. Sebuah sumber bacaan menyebutkan rata-rata anak melihat TV kira-kira 3 jam. Kenyataan ini tentunya membuat kita sebagai orang tua merasa khawatir akan adanya pengaruh buruk yang ditimbulkan dari berbagai tayangan TV tersebut. Pantaslah kiranya ada himbauan  untuk mendampingi anak-anak  saat mereka melihat TV. Terdapat pula isyarat yang ditunjukkan di layar TV seperti kode BO (Bimbingan Orangtua) pada tayangan  TV acara  tertentu
Memang kita akui bahwa banyak hal positif dan bermanfaat yang dapat kita ambil dari  berbagai tayangan TV yang stasiunnya banyak itu.Namun, tidak sedikit juga tayangan yang membuat kita tidak begitu saja membiarkan anak-anak menonton TV tanpa pendampingan.
Salah satu tayangan yang patut kita waspadai adalah tayangan yang mengandung unsur kekerasan, baik action maupun dialog yang ditampilkan di TV. Dari sebuah sumber bacaan yang sama menyebutkan bahwa action kekerasan terjadi 10 kali setiap satu jam di TV, dan tayangan terbanyak action kekerasan ada pada film kartun, yang nota bene dikemas untuk dikonsumsi anak. Film kartun mengandung rata-rata 18 action kekerasan setiap jam.
Film kartun yang disajikan untuk anak memang terkesan lucu.Bagaimana tidak lucu jika tokoh-tokohnya ada yang tangannnya memanjang agar bisa memukul lawannya, terus lawannya terpukul hingga kepalanya bisa berputar 180 derajat.Belum lagi bila salah satu tokohnya memukul lawan mainnya hingga kepala dan badannya persisi sebuah kumparan. Lucu memang, tapi apa hanya  unsur lucu yang diserap anak-anak?
Kita sudah memahami betul bahwa anak suka meniru sesuatu yang dilakukan atau diucapkan orang lain. Anak belajar dari meniru prilaku dan ucapan orang dewasa, baik ia sukai atau tidak. Anak usia 2 tahun sampai 5 tahun banyak yang tidak tahu perbedaan antara prilaku yang ditayangkan di TV dengan prilaku pada kehidupan nyata. Akibatnya, prilaku kekerasan pada anak tidak dapat dihindari.
Selain berupa prilaku kekerasan, film kartun juga memuat dialog-dialog yang merupakan unsur dari instrument kekerasan. Misalnya, ‘kupukul kau’, ‘mampus kau’, ‘terimalah balasanku!’ bahkan yang sangat mengerikan seperti ‘kubunuh kau’.
Menjadi pekerjaan rumah bagi kita para orang tua dan guru agar sedini mungkin agar menanamkan tata karma, pendidikan moral atau ahlaq mulia kepada anak-anak kita, di samping adanya pendampingan saat mereka menonton tayangan TV.
Saat ini pula, anak-anak kita selain menonton TV juga bisa melihat film kartun kesukaannya melalui media lain, seperti kepingan CD dan  media on line (internet). Pastilah, kita mengharapkan anak-anak kita dapat mengikuti perkembangan teknologi, mengurung mereka dengan menghalanginya untuk mengakses kebutuhannya melalui kemajuan teknologi bukanlah penyelesaian yang arif, sosialisasi yang gencar kepada orang tua dan guru tentang pengaruh positif dan negativenya selayaknya menjadi salah satu cara mengatasi produk media-media hiburan dan informasi tersebut. Lebih penting lagi, sentiasa memohon kepada Allah SWT agar kita dan anak-anak kita dapat menyikapi bentuk-bentuk tayangan dan informasi dari media TV, internet dan lainnya yang kemasannya funny dan halus pada kenyataannya menimbulkan masalah pada gaya bertindak dan berpikir bagi kita dan anak-anak kita.