Kamis, 14 Februari 2013

Kontraproduktif : Pendidikan Gratis dan Syarat suksesnya Mencari Ilmu






Pendidikan gratis rupa-rupanya sudah menjadi kampanye   dan program bagi para kepala daerah dan pemerintah pusat serta menjadi tuntutan  masyarakat kepada pemerintahnya. Dana bantuan yang digulirkan pemerintah pusat seperti BOS (Biaya Operasional Sekolah) dan BSM (Bantuan Siswa Miskin) serta pemerintah daerah berupa BOSDA (Biaya Operasional  Sekolah Daerah) membuktikan bahwa kampanye atau program tersebut bukan propaganda belaka.

Bukan hanya SPP yang dibebaskan lembaga pendidikan dasar (SD/MI & SMP/MTs), para lembaga penerima bantuan BOS, BOSDA dan BSM tersebut bahkan memberi bantuan lebih dari sekedar pembebasan syahriah (SPP). Pada tahun ajaran baru, nampak nyata bahwa pendidikan gratis tersebut teraktualisasi melalui pemberian seragam dan alat tulis gratis kepada peserta didik baru.
Fenomena ini sangat membantu peserta didik yang tidak memiliki dana cukup untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya tersebab mungkin background ekonomi keluarga dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Dengan bantuan tersebut segala kebutuhanpun bisa di atasi sekolah tersebut. Sekolah pemberi bantuanpun akan memperoleh nilai plus di masyarakat yang dampaknya akan meningkat kwantitas peserta didik.
Namun fenomena serba gratis ini nampaknya akan menjadi tidak mendidik manakala banyak orang tua dalam kondisi ekonomi mapan yang ikut mengambil manfaat pelayanan gratis. Bagaimana tidak demikian, terkadang rumah, kendaraannya serta fasilitas hidupnya tercukupi, tiba-tiba ingin mendapatkan keringan biaya siswa mandiri seperti pembayaran ujian akhir di sekolah swasta dan lain-lainnya.Akibatnya, para orang tua kurang memiliki tanggung jawab terhadap kebutuhan anaknya di sekolah. Orang tua menjadi berpangku tangan kepada sekolah untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya.
Fenomena inilah yang menurut saya kontraproduktif dengan syarat-syarat tercapainya mencari ilmu, sebagimana yang dijelaskan dalam kitab Ta’limul Muta’alim.Isi syarat- syarat tersebut
1.      Dzaka’in
2.      Khirsin
3.      Istiqbal
4.      Bulghoh
5.      Irsydzi ustadz
6.      Thuli zaman
Pada poin nomor 4 inilah, semangat pendidikan gratis menjadi tidak sesuai lagi. Dijelaskan dalam kitab etika mencari ilmu (salah satunya kitab Ta’limu Muta’alim tersebut) bahwa seseorang akan berhasil mencari ilmu kalau ia harus mengeluarkan biaya. Biaya yang dimaksud tentunya untuk membiayai kebutuhan mencari ilmu, seperti buku, bolpoin, buku/kitab referensi, biaya transport hadir di majelis ta’lim, biaya untuk menggaji guru (walau guru tersebut tidak mengharapkan itu, misalnya).
Nah, apakah kita masih berharap gratis pada tiap kebutuhan pendidikan kita dan orang-orang terdekat kita? Tidak hanya kitab ta’limul muta’lim yang mengungkap keberhasilan suatu upaya dengan menyertakan  biaya, dalam peribahasa Jawa juga mengatakan “Jerbasuki Mowo Beyo.