Jumat, 17 Juni 2016

Ayo Mondok

Pulang jelang Ramadhan yg lalu, Si Sulung pulang bersama rombongan santri dari Jombang.
Kemarin ada ujaran yg mengagumkan di hatiku, saat ia pulang bersama  temannya naik bis, dari Lirboyo ke rumah.
" Kakak tadi sudah pamitan Pak Kyai, Ustadz? " tanyaku
" Sudah" jawabnya seraya meletakkan tas bawaannya setelah bersalaman denganku.
" sudah khatam/selesai ta ngajinya?"
Tanyaku lagi.
" Sudah.... " jawabnya pula, lalu ia berkata
 " Kakak mau mengantar teman e kakak pulang gih, rumahnya Nganto"'
Ia segera ambil kunci motor ketika menerima izinku.
Ba'da jamaah maghrib, kami ngobrol-ngobrol.
"Kakak tadi gimana naik kendaraan umumnya?" Mengingat ia tidak pernah naik kendaraan umum dalam jarak jauh.
"Naik bus dari pondok". Jawabnya, sembari tangannya mempermainkan ujung sajadah sholatnya. Sementara itu abi hanya diam mendengarkan percakapan kami.
" bayar berapa?" Tanyaku lagi.
"Ya uang sisa dari pondok, 11.000".
Saya jadi penasaran, uang sisa segitu bisa sampai rumah.
" Terus, setelah turun dari bus naik apa?"
"Jalan kaki" jawabnya enteng, tanpa beban.
"Lho, dari Mojoagung sampai Gayam, Kakak jalan kaki?"
Aku benar-benar tidak percaya.
" Iya, dengan 2 teman kakak tadi. Ada juga lho yang jalan kaki mulai kali brantas sampai pondok, Mi". Ia menjelaskan seolah tau kalau aku keheranan dengan hal itu.
Kurespon ceritanya dengan" Oh, gitu ya. Alhamdulillah, kalau begitu". Jarak Mojoagung dengan desa kami, Catakgayam itu.biasanya ditempuh dengan naik kendaraan karena jaraknya yang tergolong jauh, lebih lebih saat ini trend ke mana mana menggunakan alat transportasi, walaupun itu sangat dekat.
 Jadi, banyak barokah yang diperoleh dari pendidikan yang ada di pesantren itu ya? Selain pendidikan agama juga pendidikan karakter yang antara lain mengajarkan dan membentuk mental anak menjadi mandiri, tangguh dan bersahaja.
# catatan Hari ke-12 Ramadhan